Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Peta Dunia Butuh Tenaga Kerja Indonesia: Menteri Buka Angka Fantastis!

📅 Kamis, 15 Mei 2025, 23:35 WIB | Oleh: Tim Penulis
Peta Dunia Butuh Tenaga Kerja Indonesia: Menteri Buka Angka Fantastis! Doc: ANTARA-Sugiharto Purnama
Ket. Seorang pekerja migran Indonesia (PMI) asal Lombok, NTB memikul buah sawit pada kawasan perkebunan kelapa sawit di Selangor, Malaysia.

BANDARLAMPUNG – Banyak faktor yang mendorong orang untuk mencari pekerjaan di luar negeri, termasuk faktor ekonomi, pengembangan karier, dan keinginan untuk meningkatkan kualitas hidup.

Permintaan pekerjaan di luar negeri yang tinggi ini menjadi peluang bagi pekerja Indonesia untuk meraih pendapatan yang lebih tinggi dan mendapatkan pengalaman internasional.

Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Abdul Kadir Karding menyebut permintaan pekerjaan di luar negeri dari berbagai negara mencapai 1,5 juta.

"Saya sudah verifikasi job order dari luar negeri mencapai 1,5 juta. Tahun lalu kita baru mengisi kurang lebih 297 ribu," kata Menteri P2MI di Bandarlampung, Kamis (15/5).

Dia mengatakan, dengan peluang bekerja di luar negeri yang cukup besar tersebut terdapat peluang lowongan kerja yang cukup banyak yang belum terisi maksimal.

"Namun begitu untuk mengisi lowongan pekerjaan itu ada syaratnya, yakni pekerja migran Indonesia (PMI) harus menguasai sebuah keterampilan dan bahasa," kata dia.

Dia pun mengatakan permintaan tenaga kerja ini datang dari 100 negara dari berbagai benua seperti di Asia, Eropa, Amerika, hingga Afrika.

"Namun, kantong-kantong terbesar saat ini berada di Malaysia, Taiwan, Hong Kong, Jepang, Korea, Belanda, dan Jerman," kata dia.

Oleh karena itu, lanjut dia, kelas migran di setiap sekolah yang telah disepakati dengan Gubernur Lampung dan akan dijalankan pada tahun depan dapat melatih keterampilan dan bahasa sehingga siap untuk bekerja di luar negeri.

"Kalau anak-anak ini ada kelas migran, sejak awal sudah penempatan kalian ini besok mau kerja di mana. Kalau ke luar negeri masuk ke kelas migran ini, dengan modul yang diambil dari negara tujuan mereka," kata dia.

Menurut dia, terkait kurikulum di kelas migran pemerintah tidak boleh egois dengan membuatnya sendiri yang akhirnya mereka yang disiapkan untuk bekerja diuar negeri tidak terserap.

"Contoh anak-anak ini ingin bekerja di Jepang, nanti kurikulumnya disesuaikan dengan di Negara itu. Bukan kurikulum yang tidak nyambung dengan pekerjaan di sana, jadi nanti disesuaikan," kata dia.

Dia juga mengatakan bahwa nantinya di Lampung, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal juga akan menggabungkan sekolah yang siswanya sedikit dan menjadikan sekolah tersebut lokasi vokasi agar sarana dan prasarananya dapat bermanfaat dan produktif untuk kepentingan masyarakat.

"Untuk tenaga pendidiknya itu kami maksimalkan yang ada. Kalau tidak ada dicari dari luar. Baik luar daerah maupun luar negeri. Intinya kami dukung total kebijakan ini baik dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)," kata dia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Jakarta Model Percontohan P...
Megapolitan
Pelatihan untuk Tekan Penga...
Nasional
Pengesahan UU Pengembangan ...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
WHO: Makanan Tercemar Tewaskan 1,5 Juta Penduduk Setiap Tahun

WHO: Makanan Tercemar Tewaskan 1,5 Juta Penduduk Setiap Tahun

05 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.