‘Nyanyi Sunyi Dalam Rantang’: Film yang Mengangkat Kisah Nyata Penuh Makna
📅 Senin, 12 Mei 2025, 17:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
Jakarta - Film "Nyanyi Sunyi Dalam Rantang" menjadi judul terbaru garapan sutradara kawakan Garin Nugroho yang hadir bukan sekadar sebagai tontonan sinematik, melainkan juga sebuah kritik sosial terhadap arah penegakan hukum di Indonesia
Film hasil kolaborasi Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK), Garin Workshop, dan Padi Padi Pictures merepresentasikan kesenjangan, di mana sistem seakan menjadikannya pedang bermata dua; tumpul ke atas, namun bertaring ke bawah.
Empat kisah pilu coba dihadirkan film ini dan semuanya terinspirasi dari kisah nyata. Kisah-kisah itu dengan gamblang memperlihatkan betapa mudahnya penegak hukum menyasar masyarakat awam yang minim pemahaman, sebuah ironi yang semakin terasa getir mengingat film kesebelas Garin itu turut berpartisipasi dalam International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2024 di Belanda.
Sejak detik-detik awal "Nyanyi Sunyi Dalam Rantang" bergulir, penonton sudah disuguhkan potret buram ketidakberdayaan masyarakat awam di hadapan hukum. Sebagian besar tokoh dalam film ini digambarkan memiliki keterbatasan pemahaman akan seluk-beluk hukum, sebuah celah yang dengan mudah dimanfaatkan untuk upaya kriminalisasi terhadap serangkaian tindakan "wajar" mereka.
Jalan cerita
Sebaiknya Anda baca juga:
Film itu mengawali dari kisah Tuminah, yang diperankan dengan apik oleh seniman ketoprak senior Minten. Ia menjadi pembuka yang menyesakkan karena didakwa dengan hukuman satu tahun penjara setelah mengambil dua butir kakao yang jatuh di tanah perkebunan tanpa izin dari korporasi pemilik lahan.
Tuminah adalah representasi ketidakadilan yang telanjang. Kakao tersebut bahkan bukan untuk diperjualbelikan, melainkan hanya dijemur di "balai-balai" rumahnya, dan menurut pengakuannya, siapa pun dipersilakan mengambilnya secara cuma-cuma.
Air mata Tuminah yang tumpah saat gelar perkara di lokasi kejadian maupun saat vonis di pengadilan seolah menjadi simbol teriakan bisu rakyat kecil yang tak berdaya. Namun, aparat penegak hukum tetap bergeming, memaksa Tuminah mendekam di balik jeruji besi, mengabaikan penolakan keras dari warga sekitar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ironi semakin mencuat ketika terungkap bahwa korporasi pemilik perkebunan kakao ternyata mengincar lahan rumah Tuminah.
Penolakan tegas Tuminah dan suaminya untuk menjual tanah warisan mereka, berapa pun harganya, memicu siasat jahat.
Pihak "jahat" mungkin melihat celah untuk menjerat Tuminah melalui tuduhan pencurian saat mengamati proses penjemuran "kakao tak bertuan" di rumahnya.
Kisah Tuminah dalam film ini agak mirip dengan kasus Nenek Minah di Banyumas pada 2009, sebuah tragedi hukum yang mengusik rasa keadilan banyak pihak ketika seorang buruh perempuan lanjut usia dihukum penjara hanya karena memungut tiga butir kakao yang telah jatuh dari pohon di perkebunan tempatnya bekerja. Dugaan kongkalikong antara korporasi dan penegak hukum juga menjadi benang merah yang kuat dalam narasi film ini.
Selanjutnya, penonton diperkenalkan pada karakter Pak Kirman, yang diperankan dengan meyakinkan oleh Agus Becak. Kisahnya terinspirasi dari kasus Tukirin di Nganjuk pada 2008, seorang petani inovatif yang berhasil mengembangkan benih jagung hibrida di lahannya sendiri, namun justru berujung pada kriminalisasi atas nama hak paten korporasi. Kasus ini menjadi potret buram lain dari disparitas hukum, di mana penegakan hukum justru digunakan untuk melindungi kepentingan bisnis raksasa, namun mematikan semangat inovasi dan kedaulatan pangan di tingkat petani kecil.
Film kemudian beralih ke kisah Krisna, seorang aktivis muda yang diperankan oleh Alex Suhendra. Karakternya terinspirasi dari keberanian Daniel Frits di Jawa Tengah, yang berhadapan dengan jerat Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) hanya karena menyuarakan kebenaran tentang dampak lingkungan dari tambak udang ilegal melalui tulisan-tulisannya di media sosial.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!