Emosi Tulus, 400.000 Orang Berduka dalam Pemakaman Paus Fransiskus
📅 Minggu, 27 Apr 2025, 13:37 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Istimewa
VATIKAN –Ratusan ribu pelayat pada Sabtu (28/4), bergabung dengan para pemimpin dunia untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Paus Fransiskus, seorang pejuang kaum miskin yang berjuang untuk membangun Gereja Katolik.
Dikutip dari Japan Times, Vatikan mengatakan 400.000 orang memadati Lapangan Santo Petrus dan berbaris di jalan-jalan Roma untuk menghadiri pemakaman pemimpin Amerika Latin pertama dari 1,4 miliar umat Katolik dunia.
Setelah upacara pemakaman yang khidmat, peti jenazah kayu sederhana milik Paus asal Argentina itu — bukti kehidupan yang rendah hati — dibawa perlahan ke gereja Santa Maria Maggiore di Roma, tempat ia dimakamkan dalam upacara pribadi.
Para kardinal menandai peti jenazahnya dengan segel lilin merah sebelum diturunkan ke dalam makam yang terletak di dalam ceruk, menurut gambar yang dirilis oleh Vatikan.
Maria Vicente, warga Guatemala berusia 52 tahun, memegang rosario dan menangis saat melihat peti jenazah dibawa ke Santa Maria Maggiore, gereja Roma favorit Paus.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Saya sangat sedih. Sungguh mengharukan bahwa dia meninggalkan kami seperti itu," katanya.
Makam marmer itu hanya bertuliskan satu kata: "Franciscus," nama kepausannya dalam bahasa Latin.
Presiden AS Donald Trump berada di antara lebih dari 50 kepala negara yang memberikan penghormatan kepada Fransiskus, yang meninggal pada hari Senin di usia 88 tahun setelah menderita stroke.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Fransiskus adalah seorang Paus di antara umat, dengan hati yang terbuka, yang berjuang untuk Gereja Katolik yang lebih berbelas kasih dan berpikiran terbuka," kata Kardinal Giovanni Battista Re yang memimpin kebaktian tersebut.
Terdengar tepuk tangan dari massa yang berkumpul di bawah langit biru cerah saat ia memuji "keyakinan Paus bahwa gereja adalah rumah bagi semua orang, rumah yang pintunya selalu terbuka."
Di antara para pelayat terdapat banyak wisatawan yang menikmati Roma pada musim semi, dan ribuan peziarah yang telah merencanakan untuk menghadiri kanonisasi Carlo Acutis pada hari Minggu, yang ditunda setelah Fransiskus meninggal.
Namun, ada curahan emosi yang tulus menyusul kematian seorang paus yang berupaya mengarahkan gereja ke arah yang lebih inklusif selama 12 tahun masa kepausannya.
Maria Mrula, 28, seorang mahasiswi asal Jerman, mengatakan dia berkendara selama 16 jam untuk menghadiri pemakaman.
Dengan "memberi kepada orang miskin dan berada bersama orang miskin," Fransiskus telah menginspirasi banyak orang, katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!