Saat Kampus Terbesar di AS, Harvard, Disanksi Trump karena Dituding Dukung Palestina: Dana Riset Rp 36 Triliun Dibekukan
📅 Sabtu, 19 Apr 2025, 09:00 WIB | Oleh: Eko S
Doc: Pexels
WASHINGTON - Pemerintah Donald Trump membekukan dana hibah federal senilai 2,2 miliar dolar AS (sekitar Rp36 triliun) untuk Universitas Harvard, setelah kampus ternama itu dituding gagal menindak tegas gerakan mahasiswa yang mendukung Palestina dan mengkritik Israel.
Kebijakan ini merupakan bagian dari langkah luas pemerintahan Trump yang mengklaim sedang memberantas antisemitisme di kampus-kampus Amerika. Namun, banyak pihak menilai isu ini telah dipolitisasi dan dimanfaatkan untuk menekan institusi pendidikan tinggi yang dianggap tidak sejalan dengan kebijakan luar negeri pro-Israel pemerintah.
Apa yang Terjadi?
Departemen Pendidikan AS secara resmi mengumumkan penghentian dana federal kepada Harvard pada 15 April 2025. Langkah ini menyusul penolakan kampus terhadap permintaan pemerintah untuk membubarkan organisasi mahasiswa pro-Palestina dan membatasi kebebasan berekspresi yang dianggap mengandung kritik terhadap Israel.
Mengapa Isu Ini Meledak?
Sejak meletusnya perang terbaru di Gaza pada akhir 2024, berbagai universitas di Amerika menjadi arena demonstrasi dan perdebatan sengit antara kelompok pendukung Palestina dan pendukung Israel. Di Harvard, sejumlah mahasiswa dan dosen menyuarakan solidaritas terhadap warga Gaza yang menjadi korban agresi militer Israel. Aksi ini ditanggapi dengan tuduhan antisemitisme oleh kelompok konservatif dan lembaga pro-Israel.
Trump merespons dengan membentuk satuan tugas nasional untuk menyelidiki kampus-kampus yang dianggap membiarkan antisemitisme. Dari 25 universitas penerima dana federal terbesar, 16 di antaranya kini diselidiki — termasuk Harvard, MIT, dan beberapa kampus negeri seperti University of Michigan dan UC San Diego.
Sebaiknya Anda baca juga:
Apa Dampaknya bagi Harvard dan Dunia Ilmu?
Presiden Harvard, Alan Garber, menolak seluruh tuntutan pemerintah yang dinilai bertentangan dengan prinsip kebebasan akademik dan konstitusi. Ia menegaskan bahwa universitas tidak akan menyerah pada tekanan politik.
Namun, pembekuan dana senilai Rp36 triliun ini berdampak langsung pada ratusan proyek riset, termasuk penelitian medis untuk Alzheimer dan HIV. Harvard memang memiliki dana abadi (endowment) besar, tetapi dana itu sebagian besar tidak dapat dialihkan secara bebas untuk menutup kekurangan anggaran riset.
Apa Kata Para Akademisi?
Profesor Christopher Loss dari Vanderbilt University menyebut bahwa tindakan ini bisa melemahkan posisi Amerika sebagai pusat inovasi ilmiah global. "Kalau universitas dipaksa tunduk pada agenda politik, kita tidak lagi bicara soal ilmu pengetahuan," ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kesimpulan: Politik Israel-Palestina Makin Membelah Dunia Kampus AS
Bagi banyak masyarakat Indonesia yang selama ini menaruh perhatian besar pada isu Palestina, kasus ini menunjukkan bagaimana dukungan terhadap Palestina di Amerika pun bisa berujung pada konsekuensi serius — termasuk sanksi negara terhadap institusi pendidikan. Perseteruan antara Trump dan Harvard menjadi simbol dari pertarungan nilai: antara kebebasan akademik, politik identitas, dan dukungan terhadap Palestina.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!