Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Penanganan Kasus Kekerasan Seksual Harus Mengutamakan Korban

📅 Minggu, 13 Apr 2025, 22:33 WIB | Oleh:
Penanganan Kasus Kekerasan Seksual Harus Mengutamakan Korban Doc: Muhamad Marup
Ket. Diskusi publik membahas kekerasan seksual di institusi pendidikan, di Jakarta, Minggu (13/4).

JAKARTA - Penanganan kasus kekerasan seksual harus mengutamakan kondisi korban. Koordinator Lingkar Studi Feminis, Eva Nurcahyani, mengatakan tiap tahapan penanganan kasus harus berdasarkan persetujuan korban.

"Penting untuk kita juga peka terhadap kondisi secara psikologis korban," ujar Eva, dalam diskusi publik, di Jakarta, Minggu (13/4).

Dia mengajak masyarakat untuk tidak terlalu bersikap seperti pahlawan. Termasuk dalam memviralkan atau mendorong korban bicara tanpa persetujuan.

"Terkadang kita bersikap seperti hero, bahwa oke gue memang aktif sebagai apa ya, mungkin aktivis atau mungkin sebagai orang yang memang pro-korban dan lain sebagainya, tanpa kita melihat bagaimana kondisi korban," jelasnya.

Eva mengungkapkan, relasi kuasa jadi penyebab kasus kekerasan seksual berulang, terutama di institusi pendidikan. Menurutnya, relasi kuasa ditemukan di semua jenjang pendidikan.

Dia menyebut, sistem pendidikan di Indonesia sangat maskulin. Kondisi tersebut tidak hanya membuat kasus kekerasan seksual berulang, tapi juga terjadi pembungkaman kasus.

"Kultur dan budaya yang maskulin itu juga menjadi salah satu penyebab kenapa adanya kekerasan seksual dan juga bahkan kasusnya itu dibungkam," katanya.

Sebagai informasi, kasus kekerasan seksual menjadi masalah yang kerap berulang di institusi pendidikan. Terbaru, Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) terbukti melakulan kekerasan seksual kepada mahasiswa.

Inspektur Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Chatarina Muliana Girsang, mengatakan, kampus berperan penting mencegah kekerasan seksual. Menurutnya, pimpinan kampus yang memiliki tanggung jawab untuk memastikan kampus menjadi ruang belajar yang aman bebas dari segala bentuk kekerasan bagi semua warga kampus.

"Tentu saja kementerian tidak bisa menjamin hal tersebut tidak akan terulang, karena sesuai otonomi perguruan tinggi, maka pimpinan kampus yang memiliki tanggung jawab," ucapnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.