ADB Pertahankan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada 2025, Faktor Ini Penggerak Utama
📅 Rabu, 09 Apr 2025, 16:18 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/ REUTERS/ Cheryl Ravelo.
JAKARTA — Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5 persen pada 2025. Tahun depan, lembaga kreditur multilateral yang bermarkas di Manila, Filipina itu memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di level 5,1 persen.
ADB menilai konsumsi swasta yang stabil dan peningkatan investasi secara bertahap akan menopang pertumbuhan, dengan belanja sosial berbasis masyarakat yang kuat yang memungkinkan distribusi pendapatan yang lebih merata. “Permintaan domestik akan menjadi pendorong utama pertumbuhan, mengimbangi ekspor neto yang terbatas,” tulis ADB dalam laporan terbaru Asian Development Outlook (ADO) April 2025, dikutip, Rabu (9/4).
Dalam analisisnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan didorong oleh sektor manufaktur dan pertanian serta jasa-jasa seperti perdagangan eceran, transportasi, dan pergudangan, yang akan diuntungkan oleh permintaan domestik. ADB mengungkapkan bahwa konsumsi kemungkinan akan tetap tangguh dengan pertumbuhan yang dirancang agar lebih inklusif.
Di sisi lain, ADB memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia dan Pasifik pada 2025 menjadi 4,9 persen dari perkiraan pada tahun lalu sebesar 5 persen.
"Kenaikan tarif, ketidakpastian tentang kebijakan Amerika Serikat, dan kemungkinan meningkatnya ketegangan geopolitik merupakan tantangan yang signifikan terhadap prospek ekonomi," kata Kepala Ekonom ADB Albert Park dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (9/4).
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Albert, ekonomi di kawasan Asia harus mempertahankan komitmen mereka untuk membuka perdagangan dan investasi, yang telah mendukung pertumbuhan dan ketahanan kawasan itu.
"Berbagai perekonomian di kawasan Asia dan Pasifik yang sedang berkembang ditopang oleh fundamental yang kuat, sehingga menjadi landasan bagi ketangguhan di tengah lingkungan global yang menantang ini," ujarnya.
Lebih lanjut, Albert menuturkan permintaan domestik yang solid dan permintaan global yang kuat untuk semikonduktor yang didorong oleh peningkatan kecerdasan buatan mendukung pertumbuhan, tetapi tarif dan ketidakpastian perdagangan menjadi kendala.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut ADO April 2025 yang dirilis, Rabu (9/4), pertumbuhan regional diperkirakan akan turun lebih lanjut menjadi 4,7 persen pada 2026. Inflasi diproyeksikan akan melandai menjadi 2,3 persen tahun ini dan 2,2 persen tahun depan seiring terus menurunnya harga pangan dan energi global.
Perkiraan pertumbuhan disusun sebelum pengumuman tarif baru oleh Pemerintah Amerika Serikat pada 2 April 2025, sehingga proyeksi dasar hanya mencerminkan tarif yang berlaku sebelumnya. Namun, ADO April 2025 menampilkan analisis tentang bagaimana tarif yang lebih tinggi dapat mempengaruhi pertumbuhan di Asia dan Pasifik.
Perubahan Cepat
Laporan ini mencatat bahwa meskipun ekonomi di kawasan ini cukup tangguh, perubahan yang lebih cepat dan lebih besar dari perkiraan dalam kebijakan perdagangan dan ekonomi Amerika Serikat menimbulkan risiko terhadap prospek.
Seiring dengan kenaikan tarif Amerika Serikat, meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan tindakan pembalasan dapat memperlambat perdagangan, investasi, dan pertumbuhan.
Kemerosotan lebih lanjut pasar properti Tiongkok, perekonomian terbesar kawasan ini, juga dapat menjadi penghambat pertumbuhan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!