Ekonom UMI Makassar Wanti-Wanti Dampak Lebaran 2025 terhadap Konsumsi Masyarakat
📅 Selasa, 08 Apr 2025, 00:00 WIB | Oleh: Muchamad Ismail
Doc: antara
MAKASSAR - Pemerintah perlu mewaspadai risiko penurunan konsumsi masyakarat dalam beberapa waktu ke depan. Sebab, hal itu berisiko menghambat laju pertumbuhan ekonomi pada awal triwulan II-2025.
Ekonom Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Etik Prihatin memperingatkan penurunan daya beli masyarakat setelah Lebaran 2025/Idul Fitri 1446 Hijriah dapat memicu penurunan konsumsi rumah tangga.
"Penurunan daya beli masyarakat itu tidak dapat dipungkiri sebagai bagian dari dampak dari perkembangan ekonomi nasional di lapangan," kata Etik di Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (7/4).
Dia mengatakan program efisiensi yang diberlakukan pemerintah memiliki maksud yang baik, namun di lapangan tidak dapat disangkal jika itu juga mempengaruhi sedikit banyaknya perubahan daya beli masyarakat.
Hal itu dibenarkan salah seorang pedagang di Pasar Terong, Makassar H Ramli. Dia mengatakan menjelang Ramadan maupun Idul Fitri 1446 Hijriah tingkat konsumsi masyarakat cenderung berkurang, baik dicermati dari segi belanjaan, juga dengan melihat perkembangan stok di lapangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagai gambaran, pelanggan rumah tangga yang biasanya membeli dua ekor ayam ras, kini sisa seekor. Alasannya, anggarannya terbatas.
Akibatnya, lanjut dia, stok ayam yang biasanya dibeli dari distributor 3-4 mobil bak terbuka dalam sepekan, saat Ramadan hingga kini hanya memesan 2 mobil bak terbuka saja.
Sementara itu, salah seorang pembeli di Pasar Terong mengatakan pembelian kebutuhan Ramadhan maupun lebaran sangat berbeda dengan tahun lalu.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kalau tahun lalu, masih bisa berbelanja lebih longgar, sekarang agak terbatas, karena pendapatan tetap sementara harga-harga kebutuhan konsumsi terus bergerak naik," katanya.
Sejatinya, daya beli masyarakat terindikasi melemah sejak awal tahun ini. Data terbaru menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun sebesar 0,4 persen dari Desember 2024 ke Januari 2025.
Padahal, sejak 2022, IKK selalu naik di awal tahun. Hal itu mencerminkan konsumen optimistis.
Data lainnya juga menunjukkan adanya penurunan angka Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Januari 2025. Pada Desember 2024, angka IPR sebesar 222 poin, turun menjadi 211,5 di Januari 2025.
Ketua Umum BPP Hipmi, Akbar Himawan Buchari menilai pemerintah harus segera turun tangan, memperbaiki berbagai indikasi yang akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Dengan begitu, persoalan tidak semakin buruk.
"Caranya, dengan berbagai hal. Seperti mempercepat realisasi belanja sosial dan infrastruktur padat karya, menstabilkan harga kebutuhan pokok, dan memastikan UMKM mendapat dukungan konkret," kata Akbar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!