Uniknya Jargon Ramadan di Indonesia, dari Munggahan hingga Ngabuburit
📅 Selasa, 04 Mar 2025, 16:00 WIB | Oleh: Tim PenulisKini, seluruh kata dalam jargon Ramadan telah tercantum dalam KBBI. Ini berarti jargon tersebut telah diakui dan terintegrasi dalam bahasa dan budaya Indonesia.
Tak hanya di Indonesia
Selain untuk melakukan refleksi secara spiritual tentang hubungan diri dengan Tuhan, Ramadan juga dijadikan kebanyakan orang muslim sebagai kesempatan untuk bertemu dan berkumpul dengan orang lain. Hal ini berdampak positif pada kohesi sosial dan komunikasi dalam komunitas mereka.
Bahkan, di Kairo (di Mesir) yang biasanya mobilitas perempuan untuk bepergian sendirian dibatasi oleh norma, sebuah penelitian disertasi mengungkap bahwa Ramadan justru menciptakan kondisi sebaliknya. Artinya, perempuan jadi lebih mudah memiliki akses ke ruang publik sepanjang Ramadan daripada di bulan-bulan lainnya. Tindak kejahatan menurun dan tempat-tempat publik menjadi relatif lebih aman, karena semua orang dituntut menjaga tingkah lakunya ketika menjalankan ibadah puasa.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kegiatan-kegiatan semacam berbuka puasa bersama, tadarus, dan salat tarawih menjadi wadah untuk meningkatkan interaksi sosial dan komunikasi di antara umat Islam. Artinya, aktivitas tersebut mampu mempererat hubungan, menciptakan relasi baru, dan menjalin dialog, sehingga kekompakan komunitas meningkat secara keseluruhan.
Di negara-negara yang warganya bukan mayoritas muslim, khususnya di kawasan Amerika dan Eropa, kegiatan-kegiatan khas selama Ramadan seperti puasa, salat berjamaah, dan berbuka puasa bersama dianggap dapat meningkatkan visibilitas kaum muslim kepada masyarakat luas, terutama tentang praktik ibadah, ide-ide, dan pandangan mereka tentang Islam.
Di Inggris, studi menunjukkan bahwa penyelenggaraan acara berbuka puasa bersama secara rutin oleh pekerja muslim di tempat kerja telah meningkatkan kesadaran instansi terkait kebutuhan karyawan selama Ramadan. Hal ini mendorong permintaan akan kebijakan yang lebih fleksibel untuk mengakomodasi perubahan rutinitas tidur dan tantangan yang dihadapi pekerja muslim selama bulan puasa, terutama di negara-negara Barat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Terlebih lagi, saat ini, media sosial (medsos) memungkinkan umat Islam untuk terhubung secara global dan mendiskusikan makna menjadi seorang muslim modern secara terbuka. Medsos juga memberikan ruang kepada mereka untuk berbagi pengalaman dan tradisi, sehingga mendorong rasa keingintahuan dari kalangan non-muslim.
Tren di medsos ini telah memunculkan bentuk baru komunikasi tentang khazanah Ramadan berikut jargonnya kepada masyarakat luas, sehingga dialog antaragama menjadi hal yang lumrah. Di sinilah peran jargon untuk memperkuat ekspresi Ramadan yang berbeda-beda antarmuslim di belahan dunia, sekaligus memopulerkannya kepada non-muslim.
Tak sekadar ibadah, tapi juga ekspresi budaya
Ramadan bukan hanya bulan refleksi spiritual bagi umat muslim, tetapi juga momentum penting untuk mempererat hubungan sosial. Di Indonesia, Ramadan diwarnai dengan penggunaan jargon khusus yang memengaruhi cara berkomunikasi dan membentuk identitas komunitas muslim. Jargon tersebut mencerminkan adaptasi dengan budaya lokal.
Perkembangan medsos semakin memperluas jangkauan komunikasi tentang Ramadan. Umat muslim dapat berbagi pengalaman dan tradisi mereka secara global, serta mempromosikan pemahaman lintas budaya.
Oleh karena itu, pemahaman terhadap jargon Ramadan menjadi krusial untuk meningkatkan toleransi dan komunikasi antaragama.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!