Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bagaimana Mengurangi Kebergantungan Impor Kapal? Begini Kata Pengamat Maritim

📅 Minggu, 23 Feb 2025, 11:27 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Bagaimana Mengurangi Kebergantungan Impor Kapal? Begini Kata Pengamat Maritim Doc: istimewa
Ket. Pengamat Maritim Ikatan Alumni Lemhannas Strategic Center (IKAL SC) Dr. Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa mengatakan dukungan pendanaan dari perbankan dan insentif dari pemerintah kunci utama membangun industri galangan kapal yang tangguh

JAKARTA-Komitmen pemerintah untuk mengakhiri kebergantungan impor kapal perlu diapresiasi. Niat besar Kabinet Presiden Prabowo itu perlu diseriusi melalui dukungan pendanaan dari perbankan nasional serta insentif dari pemerintah agar industri galangan kapal bisa tumbuh, berkembang dan bersaing secara global.

Demikian ditegaskan Pengamat Maritim Ikatan Alumni Lemhannas Strategic Center (IKAL SC) Dr. Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa ketika dimintai pendapatnya terkait bagaimana membangun industri galangan kapal yang tangguh.

"Kebijakan ini berpotensi menjadi titik balik dalam membangun kemandirian maritim yang selama ini masih tertinggal,"tegas Pria asal Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu pada Koran Jakarta, Minggu (23/2)

Diakui Marcellus Hakeng bahwa galangan kapal Indonesia sebenarnya memiliki kapasitas yang cukup besar walau belum dimanfaatkan secara maksimal. Beberapa galangan di Batam, dan daerah lainnya, telah mampu memproduksi berbagai jenis kapal, seperti kapal kargo, kapal patroli, dan kapal perikanan.

Mempertimbangkan hal itu pula, bisa saja, manakala berbicara tentang kapal super tangker dan kapal perang berteknologi tinggi, industri dalam negeri boleh jadi masih tertinggal. Lantaran masalah utama terletak pada keterbatasan infrastruktur dan teknologi manufaktur yang masih bergantung pada negara lain. "Dari itu tanpa investasi besar dan modernisasi, industri ini akan sulit memenuhi standar global,"ucapnya

Industri galangan kapal Indonesia terangnya menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Data tahun 2022 mempresentasikan adanya 363 permohonan pembangunan kapal baru di galangan kapal dalam negeri sepanjang periode Januari hingga Agustus 2022. Ini menandakan bahwa sektor perkapalan Indonesia terus berkembang pesat dan berhasil menarik kepercayaan berbagai pihak.

Dengan jumlah kapal yang terus meningkat, sektor galangan kapal Indonesia semakin mampu bersaing dengan galangan kapal asing dalam hal kapasitas dan kualitas. Kementerian Perindustrian mencatat bahwa dalam periode 2019-2021, kapal jenis Barge dan Tug mendominasi jumlah kapal yang dibangun, masing-masing sebanyak 274 unit dan 100 unit.

Angka tersebut menunjukkan betapa strategisnya industri perkapalan dalam mendukung perekonomian Indonesia, karena sektor ini merupakan industri yang padat karya, modal, serta teknologi. "Industri kapal dan jasa perbaikannya berkontribusi signifikan terhadap perekonomian, dengan total transaksi barang dan jasa mencapai 27,65 triliun rupiah pada tahun 2021, yang mencakup sektor kapal itu sendiri, perdagangan barang selain mobil, serta logam,"sebutnya

Dari itu potensi pengembangan galangan kapal Indonesia sangat besar, mengingat lebih dari 250 galangan kapal tersebar dari Sabang hingga Merauke, didukung oleh 127 industri yang memproduksi bahan baku dan komponen kapal yang sesuai dengan standar internasional.

Hadapi Tantangan

Meski demikian sambung Dr. Marcellus, industri galangan kapal Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam pengembangannya. Kendala utama yang perlu diatasi antara lain adalah pembiayaan yang belum optimal, permasalahan terkait pajak dan tanah, serta lemahnya industri baja dalam negeri.

Oleh karena itu, diperlukan strategi pengembangan yang lebih matang untuk proses produksi dan perbaikan kapal. Sehingga pembangunan galangan kapal untuk memproduksi Floating Production Unit (FPU) misalnya, memerlukan investasi sekitar 336,29 miliar rupiah, dengan estimasi waktu pengembalian modal pada tahun ke-8 bulan ke-9 dan Return on Investment (ROI) sebesar 11,75 miliar rupiah.

Nilai Internal Rate of Return (IRR) yang sebesar 11,07% lebih besar dari bunga bank yang ditetapkan sebesar 10,25%, sehingga proyek ini dinilai layak dilakukan. Hal ini menegaskan bahwa dengan investasi yang tepat dan strategi pengembangan yang kuat, industri galangan kapal Indonesia memiliki potensi untuk berkembang dan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.

Dukungan Perbankan

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
IESR: Pulau Sumbawa Punya P...

Keren, Unika Atma Jaya Masuk Top 100 Dunia WURI 2026

50 menit yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.