Sampah Antariksa Jatuh dari Langit Meningkat, Bagaimana Mitigasinya?
📅 Jumat, 31 Jan 2025, 13:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: BRIN
Taufik Rachmat Nugraha, National University of Singapore
Kebanyakan orang mungkin mengira angkasa itu adalah ruang hampa. Namun nyatanya, ruang angkasa kian hari kian padat. Sampah antariksa—seperti bekas pendorong roket dan benda-benda yang dibuang astronot—meningkat terutama dalam satu dekade terakhir.
Peningkatan ini terjadi seiring dengan maraknya misi luar angkasa dan peluncuran satelit oleh pemerintah maupun perusahaan swasta. Sisa-sisa wahana antariksa itu pun bisa jatuh ke Bumi kapan saja.
Pada awal 2025, misalnya, penduduk Bumi dikejutkan oleh jatuhnya puing-puing luar angkasa dari uji coba roket Starship milik Space X yang gagal mendarat. Peristiwa ini menyebabkan kerusakan properti di Kepulauan Turks dan Caicos yang berada di wilayah kepulauan Karibia. Muasal insiden tersebut sedang dalam penyelidikan Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebelumnya, pada penghujung 2024, sampah antariksa juga jatuh dari langit dan mendarat di sebuah desa terpencil di Kenya. Badan Antariksa Kenya (KSA) mengidentifikasi objek tersebut sebagai cincin pemisah roket peluncur berdiameter lebih dari delapan kaki dan berat lebih dari 1.100 pon. KSA masih menyelidiki asal-usul dan kepemilikan cincin tersebut.
Kejadian jatuhnya sampah antariksa atau space debris ini bukan sekali dua kali saja terjadi. Bahkan, Indonesia pun pernah beberapa kali ketiban sampah dari luar angkasa.
Meski sampai saat ini belum ada korban jiwa, risiko sampah antariksa di masa depan tidak bisa dianggap enteng. Untuk itu, pemerintah harus sigap menyiapkan langkah antisipasi. Terlebih, melihat aktivitas peluncuran objek antariksa yang kian meningkat setiap tahunnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Apa itu sampah antariksa dan mengapa kita harus waspada?
Merujuk Inter-Agency Space Debris Coordination Committee (IADC), sampah antariksa adalah sisa-sisa objek antariksa buatan manusia—termasuk pecahan dan semua elemen-elemen yang terdapat di dalamnya—di orbit Bumi atau yang kembali ke atmosfer Bumi, tetapi sudah tidak berfungsi.
Berdasarkan data European Space Agency (ESA) tahun 2024, jumlah sampah antariksa yang kembali ke atmosfer terus meningkat. Banyak di antaranya yang tidak habis terbakar ketika melintasi atmosfer, sehingga jatuh di lautan atau daratan.
Saat ini, setidaknya ada 36 ribu objek antariksa yang tengah dipantau oleh Satellite Surveilance Network (SSN). ESA juga memperkirakan ada lebih dari 40.000 puing-puing berdiameter lebih dari 10 cm di orbit sekitar Bumi. Sekitar lebih dari 650 objek di antaranya diperkirakan berasal dari hasil tabrakan dengan objek antariksa lain, ledakan, dan kerusakan alami lainnya.
Kenaikan jumlah sampah antariksa yang cukup signifikan ini bisa menjadi ancaman nyata bagi Bumi, termasuk bagi Indonesia yang cukup sering mendapat “kiriman” sampah antariksa milik negara lain.
Sampah antariksa yang jatuh ke Bumi bisa membawa zat berbahaya seperti hydrazine dan material radioaktif yang berpotensi mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan manusia serta ekosistem.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!