Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Harga Beras Naik 7 Bulan Berturut-turut, Pengamat Minta Pemerintah Perkuat SPHP

📅 Kamis, 13 Agu 2026, 20:55 WIB | Oleh:
Harga Beras Naik 7 Bulan Berturut-turut, Pengamat Minta Pemerintah Perkuat SPHP Doc: ANTARA/Ali Nur Ichsan
Ket. Arsip Foto - Asisten Manajer Pemasaran Bulog Nabire Muhammad Rahadiyan Razak saat melakukan penjualan beras SPHP pada GPM yang diselenggarakan di Nabire, Rabu (12/8).

JAKARTA - Pengamat pertanian Khudori menilai pemerintah perlu mengintensifkan operasi pasar beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk meredam kenaikan harga beras yang berlangsung selama tujuh bulan berturut-turut pada 2026, Kamis (13/8).

Menurutnya, penyaluran SPHP dinilai perlu diperkuat terutama di wilayah yang mengalami kenaikan harga beras tinggi.

“Wilayah-wilayah dengan harga beras tinggi, seperti mayoritas daerah zona II dan III di timur Indonesia, bisa menjadi sasaran. Wilayah tersebut bisa di-'bom' beras SPHP. Berapa pun kebutuhan, beras dipenuhi,” kata Khudori dalam pernyataan di Jakarta, Kamis.

Selain memperbesar volume, Khudori menilai mekanisme distribusi SPHP juga perlu dievaluasi agar dapat menjangkau pasar secara lebih efektif.

Menurut dia, beras SPHP yang mayoritas merupakan beras medium memiliki keterbatasan dalam mempengaruhi harga seluruh segmen pasar, karena konsumen juga mengonsumsi beras premium dan jenis beras lainnya.

Khudori mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut harga beras di tingkat penggilingan, grosir, dan konsumen terus meningkat sejak awal tahun.

Pada Juli 2026, harga beras di tingkat penggilingan naik 0,94 persen dibandingkan bulan sebelumnya, sedangkan harga di tingkat grosir dan konsumen masing-masing meningkat 0,41 persen dan 0,49 persen.

Harga beras di tingkat konsumen pada pekan pertama Agustus 2026, juga mencapai rata-rata Rp15.545 per kilogram, naik 0,16 persen dibandingkan Juli dan berada di atas harga eceran tertinggi (HET) beras medium maupun premium di zona I yang masing-masing Rp13.500 per kg dan Rp14.900 per kg.

Sebaiknya Anda baca juga:

Kenaikan tersebut, kata dia lagi, terjadi di tengah ketersediaan stok beras pemerintah yang mencapai sekitar 5,25 juta ton di gudang Perum Bulog per 9 Agustus 2026.

Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas), sekitar 1,4 juta ton beras telah disalurkan ke pasar melalui operasi pasar SPHP dan bantuan pangan sepanjang Januari-Juli 2026.

Perum Bulog mencatat penyaluran beras SPHP mencapai 610.932 ton sejak Maret hingga 9 Agustus 2026.

Meski penyaluran tersebut telah dilakukan, Khudori menilai operasi pasar SPHP perlu semakin diintensifkan untuk menahan kenaikan harga beras dan inflasi komoditas tersebut.

Ia juga mendorong pemerintah mempercepat penyaluran bantuan pangan beras untuk periode tiga bulan, yakni Juli-September 2026, agar segera memberikan dampak terhadap harga di pasar.

“Bantuan pangan beras tiga bulan, Juli hingga September 2026, harus dieksekusi cepat,” ujar Khudori.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Merugi, Pemkab Kudus Serahkan Pengelolaan Taman Krida Wisata ke Swasta
    Preview komentar:
    Pemberian masa tenggang atau grace period selama tiga ...
  • Berpotensi Melemah Terbatas, 13 Agustus 2026
    Preview komentar:
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai pergerakan Rupiah hari ...
  • Microchip Perbarui Ethernet Sensor Bridge untuk Perkuat Konektivitas Edge AI
    Preview komentar:
    Penyusutan dimensi perangkat hingga 60 persen yang dipadukan ...
Advertisement
injourney
Advertisement
asd
Advertisement
astra2
Advertisement
astra
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile
Advertisement
gaia musik festival
Luar Negeri
Swiss Kirim Bantuan 1 Juta ...
Advertisement
astra
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile
Advertisement
gaia musik festival
Pos Indonesia Disebut Gagal Bayar Sukuk dan Minta Restrukturisasi

Pos Indonesia Disebut Gagal Bayar Sukuk dan Minta Restrukturisasi

13 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.