Tak Hanya Swasembada Energi, Sumatra Bisa Ekspor Listrik Bersih ke Singapura
📅 Selasa, 24 Des 2024, 14:15 WIB | Oleh: Tim PenulisKami juga menelaah opsi ekspor listrik lainnya dari Northern Territory, Australia, ke Singapura. Radiasi matahari Australia memang lebih baik dibandingkan Indonesia. Namun, jarak yang lebih jauh (4300 km dari Singapura) juga menciptakan rugi daya yang besar, selain biaya pembangunan transmisi listriknya yang lebih mahal.
Langkah ke depan
Fakta bahwa Singapura tidak mempunyai sumber energi bersih memadai untuk kebutuhan domestik merupakan peluang bisnis tersendiri bagi Indonesia.
Dengan tetap memperhatikan keamananan pasokan listrik dalam negeri, Pemerintah sebaiknya mendorong para pengembang untuk segera merealisasikan proyek ekspor listrik dari Kepulauan Riau sebagai tahap awal. Ribuan lapangan kerja hijau (green jobs) akan tersedia sehingga mampu mendongkrak kinerja pertumbuhan ekonomi setempat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, keberadaan proyek ekspor listrik dari energi surya ke Singapura ini akan menambah pasar produksi panel surya dalam negeri.
Apabila Singapura memutuskan akan mengandalkan pasokan listrik dari Indonesia, bukan mustahil keran impornya akan terus mengalir bahkan membesar. Oleh karena itu, PT PLN (Persero) dan para pengembang bisa memulai studi kelayakan yang lebih lengkap untuk memetakan potensi ekspor listrik dari Sumatra. Untuk mengoptimalkan pemanfaatan kapasitas transmisi, potensi energi surya dapat dipadukan dengan tenaga air, panas bumi, PHES, yang potensinya juga banyak tersedia di Sumatra.
PT PLN (Persero) dapat merencanakan lebih baik lagi untuk pembangunan transmisi dengan rute yang mendukung evakuasi daya listrik ke Kepulauan Riau dan Singapura. Harapannya, kedua negara bisa mewujudkan kerja sama yang saling menguntungkan dan ramah lingkungan.
Sebaiknya Anda baca juga:
David Firnando Silalahi, Phd Candidate, School of Engineering, Australian National University dan Andrew Blakers, Professor of Engineering, Australian National University
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!