Tak Hanya Swasembada Energi, Sumatra Bisa Ekspor Listrik Bersih ke Singapura
📅 Selasa, 24 Des 2024, 14:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Shutterstock/Kandi Stock
David Firnando Silalahi, Australian National University dan Andrew Blakers, Australian National University
Sumatra, salah satu pulau terbesar di Indonesia, memiliki potensi energi terbarukan yang besar. Sinar matahari yang menyinari pulau ini, misalnya, bisa menghasilkan listrik dari jutaan panel surya dengan kapasitas sangat besar (sekitar 48.000 terrawatt jam/TWh per tahun).
Sayangnya, saat ini listrik Sumatra sebagian besar masih berasal dari energi fosil, terutama batu bara dan gas bumi, yang menyumbang sekitar 68% dari total bauran energi di Sumatra. Pembakaran batu bara memperparah perubahan iklim.
Sumatra—sebagaimana region lainnya di Indonesia—sebenarnya bisa mengurangi ketergantungan energi fosil secara bertahap. Kawasan ini juga berpotensi mencapai swasembada energi bersih pada 2050.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bukan hanya itu, tren penurunan harga panel surya semakin membuat energi terbarukan menjadi bisnis yang sangat menjanjikan. Dengan potensinya yang besar, Sumatra bisa mengekspor listriknya ke negara tetangga, seperti Singapura. Opsi ini, selain membantu mengurangi emisi karbon dengan energi bersih di sana, juga dapat mendongkrak pendapatan daerah di Sumatra.
Singapura butuh energi bersih
Singapura adalah negara dengan aktivitas ekonomi besar, penggunaan energi besar, meskipun wilayahnya kecil. Saat ini, Singapura sangat bergantung pada bahan bakar fosil impor terutama gas alam untuk menyalakan pembangkit listriknya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meskipun Singapura berambisi menuju nol karbon dengan menggunakan energi bersih, negara ini tidak memiliki potensi sumber energi terbarukan yang mencukupi. Dari hasil perhitungan para pakar, hanya terdapat 37 kilometer persegi yang dapat digunakan Singapura untuk memasang panel surya yang setara kapasitas 8,6 gigawatt (GW). Ini hanya cukup memenuhi 10% dari kebutuhan listrik Singapura sebesar 55 terrawatt jam (TWh) setahun.
Di lain pihak, penggunaan pembangkit listrik tenaga surya berskala besar di lepas pantai juga terbatas oleh perairan teritorial negara tetangga dan tumpang tindih dengan jalur pelayaran.
Karena itu, untuk memenuhi kebutuhan energi bersihnya, Singapura mengimpor dari Laos dan Malaysia. Singapura juga telah mengumumkan rencana impor sejumlah besar energi surya dari tetangga, termasuk Indonesia, Vietnam, Kamboja, dan Australia.
Bagaimana cara Sumatra ekspor listrik?
Saat ini, beberapa perusahaan telah memperoleh izin impor listrik tenaga surya dari Kepulauan Riau ke Singapura melalui kabel tranmsisi bawah laut. Kabel ini dapat diperpanjang hingga menghubungkan sistem Sumatra dan Kepulauan Riau.
Namun, agar penggunaannya optimal dan efisien, kabel ini perlu dipadukan dengan penyimpanan energi (storage) untuk mengalirkan listrik yang andal tanpa henti selama 24 jam.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!