Kiprah Perempuan Prancis yang Bangkit dari Keterpurukan untuk Selamatkan Sekolah di Thailand
📅 Sabtu, 21 Des 2024, 02:10 WIB | Oleh: Tim PenulisKelas musik sendiri jarang terakomodasi di sistem pendidikan umum Thailand, di mana sekolah-sekolah di pedesaan paling menderita akibat ketidaksetaraan dan kurangnya sumber daya.
"Banyak sekolah yang iri," kata Chanita Jitruk, 56, seorang guru yang terlibat dengan pekerjaan Zana sejak awal.
Ketika Chanita tiba pada tahun 2005, sekolah itu hanya memiliki seperempat murid dari yang dimilikinya sekarang. Saat ini, setengah dari anak-anak sekolah tersebut mendapat manfaat dari hibah bulanan sebesar 1.000 baht (30 dollar AS), yang sebagian besarnya menutupi biaya seragam wajib, yang sering kali menjadi pengeluaran besar bagi keluarga.
"Beasiswa ini penting untuk meningkatkan pendidikan kami," kata salah satu penerima manfaat, Korawi Kaesuk, 10 tahun, kepada AFP.
Sebaiknya Anda baca juga:
Gadis kecil yang diberi nama panggilan Pam ini bercita-cita menjadi seorang perawat agar kelak ia bisa membantu banyak orang.
Namun bagi Zana, sekolah ini telah memberinya kehidupan baru. "Sedikit demi sedikit, kedamaian tertentu telah tercipta walau semua itu butuh waktu yang amat lama," ungkap dia. AFP/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!