“Homo Juluensis”, Spesies Baru Manusia Purba
📅 Jumat, 06 Des 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: STEPHANE DE SAKUTIN / AFP
Tengkorak manusia purba berkepala besar yang ditemukan di situs Xujiayao dan Xuchang, Tiongkok, menurut peneliti merupakan spesies baru. Diberi nama Homo juluensis, menurut mereka manusia purba ini merupakan bagian dari spesies Denisova.
Dalam ilmu paleoantropologi sejauh ini hanya dikenal tiga spesies manusia purba yaitu Neanderthal, Homo Sapiens, dan Denisova. Dari ketiganya, Homo Sapiens dianggap sebagai manusia modern dalam kelompok yang bermigrasi keluar dari Afrika.

Foto : Fabrice Demeter (Nature, 2023)
Namun, menurut penelitian baru di Tiongkok, jumlah spesies manusia prasejarah mungkin bertambah berkat identifikasi yang dilakukan terhadap spesies baru manusia purba yang diberi nama Homo juluensis yang berarti “kepala besar” dalam bahasa Mandarin.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tetapi seperti apakah spesies baru ini dan bagaimana spesies ini membantu para paleoantropolog memahami variasi hominin pada zaman Pleistosen Tengah sekitar 300.000 hingga 50.000 tahun yang lalu?
Setelah nenek moyang Homo sapiens berevolusi sekitar 300.000 tahun yang lalu, mereka dengan cepat menyebar dari Afrika ke Eropa dan Asia. Selama beberapa dekade, paleoantropolog telah mencoba mencari tahu bagaimana hominin berevolusi sebelum kedatangan manusia modern, khususnya sekitar 700.000 dan 300.000 tahun yang lalu, ketika banyak manusia purba lainnya ada.
Misalnya, para antropolog telah menemukan fosil dari spesies seperti Homo heidelbergensis di Eropa barat dan Homo longi di Tiongkok tengah. Namun demikian tidak semua orang setuju jika keduanya dikategorikan dalam manusia purba baru atau mewakili spesies yang berbeda.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam tulisannya tentang bukti fosil hominin dari Tiongkok di jurnal The Innovation in 2023, Christopher Bae, seorang antropolog di University of Hawaii di Manoa dan Xiujie Wu, seorang paleoantropolog di Institute of Vertebrate Paleontology and Paleoanthropology di Chinese Academy of Sciences dan rekan-rekannya, menulis bahwa terus menggunakan istilah umum ini telah menghambat upaya untuk sepenuhnya memahami hubungan evolusi di antara nenek moyang.
Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan Mei 2024 dalam jurnal PaleoAnthropology, Wu dan Bae menggambarkan serangkaian fosil hominin yang tidak biasa yang ditemukan beberapa dekade sebelumnya di Xujiayao di Tiongkok utara. Tengkoraknya sangat besar dan lebar, dengan beberapa ciri mirip Neanderthal. Namun, tengkorak itu juga memiliki ciri-ciri yang umum pada manusia modern dan Denisova.
“Secara kolektif, fosil-fosil ini mewakili bentuk baru hominin berotak besar (juluren) yang tersebar luas di sebagian besar Asia timur selama Kuarter Akhir [300.000 hingga 50.000 tahun lalu],” tulis mereka dalam laporan penelitian tersebut, dikutip dari Live Science.
Penulis studi mengusulkan bahwa Denisova sebenarnya adalah Homo juluensis dan penelitian ini berkontribusi pada dekolonisasi bidang tersebut sehingga Asia dapat menempati tempat yang seharusnya. Spesies hominid baru di Tiongkok yaitu Homo juluensis mengemuka pada akhir tahun ‘70-an setelah fosil milik 16 individu ditemukan di dua lokasi berbeda di Tiongkok.
Tetapi pertama-tama, penulis studi menarik garis yang jelas antara spesies hominin baru ini dengan yang lain tetapi menarik kesamaan yang kontroversial dengan Denisova. Gigi mereka mirip, membuat mereka menyarankan bahwa Denisova tidak terkait dengan Neanderthal karena pada kenyataannya adalah Homo juluensis.
Para peneliti Tiongkok berpendapat bahwa Denisova merujuk pada populasi umum daripada spesies tertentu. Namun, orang Barat ingin fosil Tiongkok menggunakan nama Denisova, tetapi mereka mengusulkan yang sebaliknya jika spesies baru telah diidentifikasi, yang mereka klaim telah dilakukan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!