“Homo Juluensis”, Spesies Baru Manusia Purba
📅 Jumat, 06 Des 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo BronoTerminologi Baru
Dalam sebuah komentar yang diterbitkan pada 2 November di jurnal Nature Communications, Bae dan Wu mengatakan bahwa catatan fosil yang berkembang di Asia timur membutuhkan terminologi baru. Membagi homo purba di area ini menjadi setidaknya empat spesies yaitu Homo floresiensis, Homo luzonensis, Homo longi dan Homo juluensis yang baru diberi nama, akan membantu para peneliti lebih memahami kompleksitas evolusi manusia terkini.
Homo juluensis yang baru diberi nama ini didasarkan pada fosil yang berasal dari antara 220.000 hingga 100.000 tahun lalu dari Xujiayao dan Xuchang. Keduanya merupakan sebuah situs manusia purba di Tiongkok bagian tengah.
Pada tahun 1974, para penggali menemukan lebih dari 10.000 artefak batu dan 21 fragmen fosil hominin yang mewakili sekitar 10 individu berbeda di Xujiayao. Semua tulang tengkorak menunjukkan bahwa hominin ini memiliki otak besar dan tengkorak tebal. Keempat tengkorak kuno dari Xuchang juga sangat besar dan mirip dengan tengkorak Neanderthal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam mengamati campuran ciri-ciri yang ada dalam kelompok fosil ini, Wu dan Bae memutuskan dalam makalah Mei 2024. “Mereka mewakili populasi hominin baru untuk wilayah tersebut, yaitu Juluren, yang berarti manusia berkepala besar,” tulis mereka.
Meskipun Homo juluensis secara taksonomi merupakan spesies hominin baru, itu tidak berarti mereka terisolasi secara genetik. Mereka mungkin merupakan hasil perkawinan antara berbagai jenis hominin dari Zaman Pleistosen Tengah, termasuk Neanderthal. “Mendukung gagasan tentang kesinambungan dengan hibridisasi sebagai kekuatan utama yang membentuk evolusi manusia di Asia timur,” kata mereka.
“Nama amat penting baik dalam biologi evolusi maupun antropologi. Nama adalah alat mental yang memungkinkan kita berkomunikasi dengan orang lain tentang suatu konsep,” tulis paleoantropolog John Hawks dari Universitas Wisconsin–Madison pada 16 Juni lalu.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Saya melihat nama Juluren bukan sebagai pengganti Denisova, tetapi sebagai cara untuk merujuk pada kelompok fosil tertentu dan kemungkinan tempatnya dalam jaringan kelompok purba,” imbuh dia.
Chris Stringer, seorang paleoantropolog di Museum Sejarah Alam di London, mengatakan kepada Live Science melalui email bahwa penelitiannya sendiri dengan rekan-rekannya dari Tiongkok menunjukkan bahwa Homo juluensis mungkin lebih cocok dengan Homo longi. hay/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!