Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Hadapi Gempuran Budaya Modern, Reyog Tetap Bertahan

📅 Kamis, 05 Des 2024, 17:09 WIB | Oleh:

Bahkan, di luar negeri pun, seperti di Malaysia atau Thailand, orang asal Ponorogo tidak lupa dengan Reyog. Karena itulah, kemungkinan, negara Malaysia sempat mendaku Reyog sebagai kebudayaan tradisionalnya.

Budayawan dari Ponorogo Dr H Sutejo, MHum mengemukakan bahwa salah satu kondisi yang membuat Reyog tetap mampu bertahan hidup adalah kebanggaan masyarakat terhadap kesenian warisan leluhurnya itu.

Rasa bangga terhadap kekayaan budayanya itu menjadi energi luar biasa bagi Reyog, sehingga tetap hidup dan terus berkembang.

Keberadaan grup-grup Reyog di berbagai kota di Indonesia, bahkan di luar negeri, merupakan buah dari kebanggaan masyarakat akan kesenian adiluhungnya itu.

Bagi masyarakat penonton, ketika di daerah perantauan ada pementasan Reyog, hal itu menjadi semacam pengobat rindu pada kampung halaman.

Banyaknya penonton yang menikmati pertunjukan juga menjadi penyemangat bagi para pemain untuk menampilkan atraksi Reyog dengan bagus.

Karena itu, orang Ponorogo di perantauan tidak minder ketika mereka menampilkan Reyog.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Ponorogo, setiap tahu rutin menggelar festival yang biasanya dilaksanakan pada bulan Muharam atau tahun baru dalam kalender Jawa. Festival itu dikemas dalam kegiatan besar bernama "Grebeg Suro".

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pada Januari 2024 merilis sebanyak 110 ajang yang masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) tahun ini, dan salah satunya adalah Festival Reyog Ponorogo.

Festival tahunan itu menjadi ajang yang selalu ditunggu oleh warga Ponorogo dan kabupaten sekitarnya maupun mereka yang merupakan pelaku aktif dan tinggal di berbagai daerah di Indonesia.

Bukan sekadar sebagai ajang hiburan, pelaksanaan festival itu menjadi penggerak ekonomi di Ponorogo, karena pemilik usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki peluang untuk menyediakan berbagai kebutuhan para pengunjung dan grup Reyog dari berbagai daerah, sehingga ada perputaran uang.

Reyog Ponorogo adalah contoh dari sekian banyak budaya tradisi Indonesia yang mampu hidup dan menghidupi warganya.

Mengenai penulisan, kesenian itu awalnya bernama Reyog, termasuk di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tertulis Reyog, bukan Reog. Nama Reog muncul ketika Bupati Ponorogo (kala itu) Markoem Singodimejo dijadikan slogan dan akronim dari "Resik, Endah, Omber Girang-gemirang", yang artinya "Bersih, indah, makmur, bahagia"

Para pewaris kebudayaan tradisional dapat belajar banyak dari kesenian Reyog Ponorogo agar mampu bertahan hidup dan bisa dilestarikan oleh anak cucu. Ant

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Pemulihan sawah pascabencana di Aceh

44 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pemulihan sawah pascabencan...
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

54 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.