Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Hadapi Gempuran Budaya Modern, Reyog Tetap Bertahan

📅 Kamis, 05 Des 2024, 17:09 WIB | Oleh:
Hadapi Gempuran Budaya Modern, Reyog Tetap Bertahan   Doc: ANTARA/Muhammad Iqbal
Ket. Seniman Reog Ponorogo tampil di Festival Budaya di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (4/12). Reog Ponorogo kini resmi masuk daftar Warisan Budaya Takbenda yang diakui oleh UNESCO.

BONDOWOSO - Hampir semua kesenian tradisional menghadapi tantangan besar, bahkan pertempuran hebat, berhadapan dengan gemerlapnya budaya modern yang didukung oleh perkembangan teknologi informasi.

Reyog (reog) Ponorogo adalah salah satu dari kesenian tradisional di Indonesia yang memiliki kekuatan luar biasa dalam mengarungi pertempuran dengan budaya modern.

Pada 3 Desember 2024, organisasi internasional di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berfokus menangani pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan atau UNESCO menetapkan Reyog Ponorogo masuk dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda (WBTb) kategori “In Need of Urgent Safeguarding”.

Bagi orang Ponorogo, baik tinggal di kabupaten itu maupun yang merantau ke daerah lain, bahkan ke luar negeri, penetapan Reyog sebagai warisan budaya itu bukan sekadar kebanggaan, melainkan juga menjadi energi tambahan bagi pelaku untuk tetap semangat mempertahankan kesenian nenek moyangnya itu melawan budaya modern masa kini.


Pewaris

Ada beberapa alasan sehingga kesenian Reyog tidak pernah ditinggalkan oleh generasi masa kini Ponorogo, meskipun budaya modern lebih menjanjikan gemerlap dan kemewahan?

Budayawan (alm) Prof Dr Ayu Sutarto pernah mengemukakan alasan mengapa Reyog, termasuk ludruk, dua kesenian tradisional di Jawa Timur, yang hingga kini masih hidup dan digemari oleh masyarakat.

Ayu memaparkan dua elemen penyangga Reyog dan ludruk, yakni adanya pewaris aktif dan pewaris pasif. Pewaris aktif ini merujuk kepada mereka yang menjadi pelaku (pemain) kesenian tradisional tersebut, sedangkan pewaris pasif adalah para penikmat atau penonton.

Dua pewaris itu berada dalam relasi yang simbiosis mutualisme, karena satu sama lain saling membutuhkan. Pewaris aktif atau pelaku membutuhkan kehadiran penonton sebagai penikmat, sedangkan pewaris pasif memerlukan hadirnya pelaku kesenian untuk mendapatkan hiburan.

Hingga kini, masyarakat di daerah yang dikenal sebagai "Kota Santri" dan "Kota Dawet" itu, baik pelaku aktif maupun pasif, masih menempatkan Reyog sebagai sarana hiburan, sekaligus sarana merawat kebanggaan sebagai wong Ponorogo.

Pemerintah Kabupaten Ponorogo, beberapa tahun lalu mencatat bahwa hampir semua desa di kabupaten itu memiliki grup Reyog. Bahkan, dalam satu desa ada yang memiliki dua hingga tiga grup Reyog.

Karena itu, kesenian Reyog tidak pernah jauh dari telinga dan mata orang yang tinggal di Ponorogo, termasuk mereka yang masih anak-anak. Apalagi, di sekolah-sekolah juga ada kegiatan ekstrakurikuler Reyog.

Mengenai kebanggaan warga terhadap kesenian Reyog ini memang tidak bisa dihilangkan dari hati orang yang memiliki darah keturunan kota budaya itu.

Orang asal Ponorogo yang merantau ke daerah lain tidak pernah lupa dengan hiburan Reyog. Karena itu, di sejumlah daerah di luar Ponorogo kita dengan mudah menjumpai pertunjukan Reyog yang tidak perlu mendatangkan grup dari Ponorogo.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.