Jangan Masukkan Mi Instan dalam Program Makan Siang Gratis
📅 Selasa, 03 Des 2024, 03:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiMenurutnya, salah satu cara efektif untuk mencapainya adalah dengan mengadaptasi konsep ransum tentara, seperti yang dilakukan India dalam program makan gratis mereka.
“India berhasil menyediakan makan gratis untuk anak-anak di seluruh pelosok India dengan gizi yang terjamin melalui pendekatan ransum tentara. Konsep itu melibatkan produksi makanan bergizi dalam skala menengah dan besar, yang standar mutunya terkontrol, tahan lama, dan mudah didistribusikan hingga ke daerah terpencil,” ungkap Toto.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia dapat mengadopsi model serupa dengan memanfaatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bekerja sama dengan swasta. “BUMN bisa mengumpulkan bahan pangan dari petani, nelayan, dan peternak lokal. Hasilnya diolah menjadi makanan ransum yang bergizi, seperti kombinasi sayur, ikan, dan daging, lalu dikemas secara steril,” tambahnya.
Keunggulan pendekatan itu adalah efisiensi dalam distribusi dan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Selain memastikan anak-anak mendapatkan makanan bergizi, model ini juga menjamin pasar yang stabil untuk hasil pertanian dan peternakan lokal.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Ini solusi yang komprehensif. Kita tidak hanya meningkatkan gizi anak-anak, tetapi juga mendukung ekonomi pedesaan,” kata Toto.
Namun, ia menekankan pentingnya keterlibatan UMKM di daerah untuk memenuhi kebetuhan makan siang gratis setempat sehingga menggerakkan ekonomi lokal.“UMKM bisa dilatih kok,” ujarnya.
“Standar kebersihan harus dijaga untuk mencegah masalah seperti keracunan atau diare massal. Dengan kontrol yang ketat, ransum ini akan menjadi solusi yang tidak hanya murah, tapi juga aman dan berkualitas,” tegasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan pendekatan berbasis ransum tentara, Toto optimistis bahwa program makan siang gratis dapat berjalan lebih efektif, memberikan dampak positif yang nyata bagi kesehatan dan masa depan anak-anak Indonesia.
“Ini bukan hanya tentang makan siang, tapi tentang investasi jangka panjang untuk mencetak generasi yang sehat dan produktif,” tutupnya.
Secara terpisah, Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, sepakat bahwa program makan gratis saja tidak cukup, tetapi harus bergizi, bersih, dan jangka panjang tidak timbulkan penyakit.
“Sebab itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) di daerah daerah harus mengecek bahan pangan dan proses pembuatan makanan di UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah),"tegas Esther.
Kemudian, lanjut dia, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinas KUKM) juga perlu memberikan pelatihan secara berkala dan rutin. Sementara Dinas Pendidikan (Disdik) berperan dalam penentuan sekolah yang menerima program MBG agar sekolah yang dituju sesuai dengan prioritas penerima manfaat.Untuk memastikan keberlanjutan, ujar dia, tidak lupa juga pemerintah harus memastikan stakeholder terkait agar sampah dan limbah hasil makanan dari program makan siang gratis dapat diolah dan didaur ulang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!