Degrowth, Melawan Industrialisasi dan Konsumsi Berlebihan Demi Masa Depan yang Berkelanjutan
📅 Sabtu, 23 Nov 2024, 15:30 WIB | Oleh: Tim PenulisUntuk menerapkan prinsip SDG 12 dan konsep degrowth, penting untuk memahami bagaimana konsumsi berlebihan yang berdampak negatif pada lingkungan dan kesehatan masyarakat. Di Indonesia, kami ingin mengangkat dua contoh nyata kasus konsumsi berlebih dan bagaimana implementasi degrowth dapat bermanfaat.
Kedua kasus ini menunjukkan perlunya kebijakan dan edukasi yang mendorong konsumen untuk memilih pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan, sejalan dengan upaya degrowth untuk mengurangi dampak negatif dari konsumsi yang berlebihan.
Kasus 1: Minuman Berpemanis Dalam Kemasan
Riski (18 tahun), di umurnya yang masih tergolong belia harus mengalami gagal ginjal. Penyakit itu muncul akibat pola makan buruk seperti kebiasaan mengonsumsi teh dan kopi kemasan yang tinggi gula. Salah satu teh kemasan yang beredar luas di masyarakat mengandung hingga 42 gram gula per botol, melebihi batas konsumsi harian yang direkomendasikan oleh tenaga kesehatan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kasus Riski menekankan perlunya kesadaran akan bahaya konsumsi gula berlebih di kalangan remaja di Indonesia. Tidak hanya gagal ginjal, konsumsi berlebihan minuman berpemanis kemasan juga berisiko terhadap obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, serta penyakit jantung di Indonesia.
Akses yang mudah dan murah jadi penyebab tingginya penyebaran risiko-risiko tersebut kepada anak-anak dan remaja. Kondisi ini diperparah dengan rendahnya literasi tentang bahaya konsumsi gula yang tinggi.
Selain risiko kesehatan, produksi kemasan plastik minuman manis juga berdampak negatif bagi lingkungan, menyumbang jejak karbon besar dan mencemari ekosistem laut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menekan konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan tidak hanya mengurangi dampak kesehatan dan limbah plastik, tapi juga membuka peluang yang lebih besar dalam penggunaan tebu sebagai bahan baku bioetanol. Bioetanol merupakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan ketimbang bahan bakar fosil.
Pemerintah sedang mempertimbangkan penerapan cukai 20% pada produk ini, yang diprediksi mampu menurunkan konsumsi minuman berpemanis hingga 17,5%.
Meski begitu, kebijakan cukai ini masih memicu polemik terkait efektivitasnya dalam mengurangi konsumsi.
Kasus 2: Fast-fashion
Fesyen cepat menjadi fenomena global sejak awal 2000an tidak terlepas dari perkembangan teknologi dan ongkos produksi yang kian murah. Industri fesyen dunia selama setidaknya dua dekade terakhir tersebut terus mendapat sorotan karena praktik yang tidak ramah lingkungan dan eksploitatif terhadap buruh. Sorotan tertuju pada brand-brand global yang memiliki rantai pasok di negara-negara dunia Selatan seperti Vietnam, India, Indonesia, dan Bangladesh.
Di balik janji manis menuju keberlanjutan, industri fesyen global masih terlibat dalam deforestasi dalam memproduksi produk-produknya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!