Degrowth, Melawan Industrialisasi dan Konsumsi Berlebihan Demi Masa Depan yang Berkelanjutan
📅 Sabtu, 23 Nov 2024, 15:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Oktopus16//Shutterstock.
Imam Salehudin, Universitas Indonesia; Kanti Pertiwi, Universitas Indonesia, dan Nur Dhani Hendranastiti, Universitas Indonesia
Dahulu, sebuah televisi bisa berumur belasan hingga puluhan tahun. Namun, sekarang bisa menggunakan sebuah televisi yang dilengkapi fungsi canggih hingga lima tahun sudah cukup bagus.
Begitu juga produk fashion/fesyen. Mungkin banyak di antara kita yang masih mendapati pakaian-pakaian orang tua kita masih layak pakai hingga saat ini.
Tren industri yang menghasilkan barang produksi yang lebih singkat, membuat produk cepat usang dan tidak tahan lama dikenal dengan istilah planned obsolescence. Hal tersebut beriringan dengan gaya hidup konsumtif yang didorong oleh iklan dan tren barang baru, meninggikan tumpukan sampah dan memperparah beban lingkungan. Lebih dari itu, pola konsumsi ini menambah ketergantungan kita pada produksi yang sering kali tidak berkelanjutan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hingga akhirnya lahir seruan antitesis bernama degrowth yang mempertimbangkan bahwa kesejahteraan sejati tidak memerlukan peningkatan konsumsi berlebih bahkan hingga merusak lingkungan. Istilah degrowth muncul pada tahun 1972.
Pertumbuhan ekonomi diukur menggunakan Produk Domestik Bruto (PDB), yang menghitung nilai produk barang dan jasa yang dihasilkan di dalam perekonomian suatu negara pada periode tertentu. Dorongan pertumbuhan ekonomi dan konsumsi tinggi pada masyarakat modern saat ini dikenal dengan slogan more consumption, more happiness.
Hal ini kemudian menciptakan konsumsi yang berlebihan pada beberapa negara. Namun, terdapat konsumsi yang tidak tercukupi pada belahan dunia yang lain atau bahkan ketimpangan di dalam satu negara.
Sebaiknya Anda baca juga:
Karena bertujuan mencapai pertumbuhan ekonomi dan konsumsi tinggi, tren ini mengorbankan kesejahteraan alam, manusia, dan masyarakat dikarenakan konsumsi sumber daya yang berlebihan. Oleh karena itu, degrowth berargumen bahwa pertumbuhan ekonomi harus lebih dalam penetrasinya atau inklusif dengan memasukkan kesejahteraan manusia dan lingkungan sebagai komponen penting kalkulasinya.
SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab
Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 2015 sudah menyadari bahaya industrialisasi modern dengan meluncurkan Sustainable Development Goals (SDGs).
Salah satu poin utama SDG 12 adalah tentang “Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab” dengan fokus pada pengurangan jejak ekologis melalui pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan dan meminimalkan limbah.
Kami menilai SDG 12 sangat selaras dengan konsep degrowth yang mendukung pengurangan konsumsi serta restrukturisasi ekonomi untuk memprioritaskan kesejahteraan manusia dan lingkungan daripada mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa batas.
Alih-alih memaksimalkan output, pendekatan degrowth ini mendorong pola produksi dan konsumsi yang etis dan berkelanjutan guna mengurangi beban sumber daya dan menekan limbah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!