Senjata Nuklir Harus Dikendalikan Manusia, Bukan AI
📅 Senin, 18 Nov 2024, 01:05 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Leah Millis/AFP
LIMA – Gedung Putih, pada Sabtu (16/11), mengatakan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, dan pemimpin Tiongkok, Xi Jinping, sepakat manusia dan bukan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang harus membuat keputusan mengenai penggunaan senjata nuklir.
"Kedua pemimpin menegaskan perlunya mempertahankan kendali manusia atas keputusan untuk menggunakan senjata nuklir," kata Gedung Putih dalam sebuah pernyataan.
Kedua pemimpin juga menekankan perlunya mempertimbangkan dengan saksama potensi risiko dan mengembangkan teknologi AI di bidang militer dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab.Kementerian Luar Negeri Tiongkok tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Dikutip dari The Straits Times, namun tidak jelas apakah pernyataan itu akan mengarah pada pembicaraan lebih lanjut atau tindakan terkait masalah tersebut. Tetapi, pernyataan itu tetap menandai langkah pertama antara kedua negara dalam pembahasan dua masalah yang kemajuannya sulit dicapai yaitu senjata nuklir dan kecerdasan buatan.
Washington telah mendesak Beijing selama berbulan-bulan untuk mematahkan penolakan lama terhadap perundingan senjata nuklir.Kedua negara sempat melanjutkan perundingan tingkat resmi mengenai senjata nuklir pada bulan November, tetapi perundingan tersebut terhenti, dengan seorang pejabat tinggi AS secara terbuka menyatakan rasa frustrasi mengenai responsivitas Tiongkok.
Sebaiknya Anda baca juga:
Perkembangan Cepat
Negosiasi pengendalian senjata nuklir formal belum diharapkan akan terjadi dalam waktu dekat, meskipun AS mengkhawatirkan perkembangan cepat senjata nuklir Tiongkok, meskipun pertukaran semi-resmi telah dilanjutkan.
Mengenai kecerdasan buatan, Tiongkok dan Amerika Serikat meluncurkan pembicaraan bilateral formal pertama mereka mengenai masalah tersebut pada bulan Mei di Jenewa, tetapi pembicaraan tersebut diyakini belum menyentuh pengambilan keputusan mengenai senjata nuklir.
Sebaiknya Anda baca juga:
Departemen Pertahanan AS, memperkirakan pada tahun 2023 Beijing memiliki 500 hulu ledak nuklir operasional dan mungkin akan memiliki lebih dari 1.000 pada tahun 2030.
Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan dengan 1.770 dan 1.710 hulu ledak operasional yang dikerahkan oleh Amerika Serikat dan Russia. Pentagon mengatakan pada tahun 2030, sebagian besar senjata Beijing kemungkinan akan berada pada tingkat kesiapan yang lebih tinggi.
Sejak 2020, Tiongkok juga telah memodernisasi program nuklirnya, memulai produksi kapal selam rudal balistik generasi berikutnya, menguji hulu ledak kendaraan luncur hipersonik, dan mengadakan patroli laut bersenjata nuklir secara berkala.Senjata di darat, udara, dan laut memberi Tiongkok "triad nuklir", ciri khas kekuatan nuklir besar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!