Indonesia Harus Jadi Ibu Kota Kebudayaan Dunia
📅 Sabtu, 16 Nov 2024, 00:00 WIB | Oleh: Tim PenulisPasti ada irisan-irisan, pasti ada pertemuan-pertemuan termasuk nanti Badan Ekraf gimana kita atur hulu ke hilir, dan perlu kerja sama antara Kementerian Kebudayaan, Ekraf, pendidikan, dan lain-lain.
Nah, oleh karena itu, di dalam berbagai kesempatan kita menampung aspirasi, menampung juga pandangan, kritik, masukan-masukan agar Kementerian Kebudayaan tidak salah di dalam penyelenggaraan program-program ini. Karena kita tahu bahwa kita juga mempunyai irisan dengan beberapa kementerian dan lembaga lain.
Ada beragam regulasi terkait seni dan budaya. Kira-kira ke depannya akan seperti apa?
Kita berharap nanti mungkin ada semacam Omnibus kebudayaan, Omnibus law kebudayaan, sehingga UU kebudayan itu jadi satu, semuanya dimasukkan ke situ. Ada budaya, ada perfilman, ada pemajuan kebudayaan, kemudian soal museum, musik semua jadi satu kesatuan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Daripada terpisah-pisah dari UU budaya yang ada, lebih baik menjadi satu UU besar namanya UU Kebudayaan. Sekarang kan terpisah, UU Perfilman sendiri, cagar budaya sendiri, ada yang sedang ajukan UUPermuseuman, nanti kita diskusikanlah, kita kaji supaya substansinya tidak lepas.
Apakah akan ada pemetaan juga terkait pengembangan kebudayaan ke depannya?
Tentu ada semacam roadmap-nya ke depan. Kebudayaan menjadi fokus dalam membangun identitas, jati diri, karakter, pengembangan sumber daya Indonesia serta landasan dalam program pembangunan serta meningkatkan identitas nasional dan perekat. Jadi, ada narasi strategi ini kebudayaan sebagai pemersatu, kekuatan ekonomi, kekuatan diplomasi, pembentuk jati diri bangsa. Empat pilar kebudayaan ini yang saya kira kita coba rumuskan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pemetaan juga penting karena kebanyakan gedung-gedung seni yang berada di taman budaya domainnya di pemerintah daerah. Ini kita perlu petakan hulu ke hilir, ada artspace bagi masyarakat ekspresikan diri.
Ya, tentu itu akan menjadi masukan yang penting, masukan sangat berharga untuk kita kembangkan. Kita ingin mewujudkan kementerian kebudayaan sebagai fasilitas pendukung, seni ekspresi budaya kita sangat luas, dari tradisi sampai pop culture. Kita akan petakan dulu di mana kita perlu intervensi, di mana kita harus dorong, di mana kita kolaborasi dengan berbagai pihak.
Tadi disinggung soal revitalisasi museum. Pengembangannya kira-kira bagaimana?
Saya kira memang perlu kita revitalisasi museum-museum kita baik dari sisi penampilannya. Saya ini kan pencinta museum, saya sudah keliling melihat museum di 100 negara, dan ini museum-museum kita harus tampil menyesuaikan diri, beradaptasi dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, misal tampilan-tampilan digitalnya, narasinya. Bukan hanya artefaknya saja, tapi artefak itu harus dinarasikan, supaya juga bisa interaktif, bisa dinikmati terutama generasi baru mereka suka jika ada sentuhan teknologi dan interaktif belajar.
Jumlah museum kita mungkin hampir 500 ya, pemerintah dan swasta. Nanti kita akan kerja sama dengan asosiasi museum Indonesia dan juga dengan yang lain. Jadi, harus ada peningkatan museum kita supaya bisa presentable. Di negara lain oran datang dan antre, bahkan mau membayar mahal
Ini untuk diketahui juga bahwa Kementerian Kebudayaan sejauh ini sudah mempunyai satu BLU. Mungkin nanti akan kita kembangkan. Di sini menampung ada 18 museum dan 34 cagar budaya,termasuk di dalamnya Museum Nasional, lalu ada Galeri Nasional, ada museum-museum sejarah di dalamnya, ada candi-candi, mulai dari Candi Borobudur, Candi Prambanan, pengawasan, dan sebagainya. Jadi, ini kita masih menata berusaha untuk mengejar, terutama hal-hal yang sifatnya penataan organisasi benar-benar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!