Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bumi Pernah Hujan Tanpa Henti Selama Dua Juta Tahun

📅 Kamis, 14 Nov 2024, 06:10 WIB | Oleh:

Gunung berapi ini cukup kuat untuk mengubah siklus air dan karbon hingga mengubah iklim selamanya. Banyak spesies punah sebagai akibatnya, termasuk sepertiga dari semua hewan laut. Penting untuk dicatat bahwa hujan turun secara berkala, bukan dalam satu banjir besar yang terus-menerus dan tak pernah berakhir.

“Ini seperti mengisi daya baterai yang sangat besar,” jelas ahli geologi Jacopo Dal Corso, yang memimpin penelitian tentang topik tersebut. “Pendinginan yang sangat banyak di atmosfer dan penguapan serta pemanasan yang sangat banyak di dekat permukaan (akan) menyebabkan badai yang sangat besar,” ujar dia dikutip dari laman Explorers Web.

Beberapa ahli paleontologi berpendapat bahwa pegunungan baru menyebabkan semua masalah ini karena perubahan tekanan antara daratan dan lautan. Namun, sebagian besar ilmuwan percaya bahwa teori vulkanisme lebih masuk akal.

Kepunahan Tersembunyi

Peristiwa Pluvial Karnian baru ditemukan pada tahun ‘70-an. Ahli geologi Schlager & Schollenberger sedang mempelajari batuan di Pegunungan Kapur Utara Austria ketika mereka melihat lapisan batuan silisiklastik abu-abu gelap yang aneh dan tiba-tiba dalam catatan batuan karbonat yang sebelumnya konsisten.

Mereka memperkirakan usianya 234 juta tahun yang lalu. Batuan ini tidak konsisten dengan iklim Pangea yang panas dan kering. Sebaliknya, jenis batuan ini biasanya muncul di daerah yang sangat basah atau daerah dengan air yang melimpah.

Endapan lain dari masa ini mulai bermunculan di seluruh dunia. Di Inggris barat daya, ahli geologi menemukannya tertanam di lapisan batu pasir merah. Batuan ini juga muncul di Palestina, Italia, dan Utah di AS

Indikator lain dari banjir besar termasuk keberadaan ambar, batu bara, sungai dan danau purba dengan sisa-sisa tanaman yang membatu, dan tanah liat putih seperti bubuk yang disebut kaolinit. Selain itu, serbuk sari dan spora yang membatu yang ditemukan di bebatuan dari periode Karnian juga menunjukkan iklim yang lembab dan suhu yang panas.

Karena penemuannya baru-baru ini dan kesulitan dalam menemukan data selama bertahun-tahun, beberapa ahli geologi menyebut CPE sebagai kepunahan tersembunyi (hidden extinction).

Meskipun perubahan iklim akibat aktivitas manusia dianggap tidak diinginkan saat ini, periode perubahan iklim kuno ini memberikan banyak manfaat bagi dunia. Planet ini mengalami percepatan drastis siklus utama, termasuk siklus karbon dan hidrologi.

Dinosaurus pun berkembang pesat dan cuaca lebih teratur bersama tanaman yang lebih besar. Sedangkan reptil mulai berkurang karena pohon konifer yang menjulang tinggi dan tanaman besar lainnya menggantikan pasokan makanan mereka. Sementara laut yang menjadi asam menyebabkan pertumbuhan plankton dan terumbu karang.

Seperti bisa ditebak hujan kemudian berhenti. Lalu banjir menghilang dan suhu global kembali ke iklim yang tidak terlalu intens dan lebih dingin. Pangea kembali menjadi gurun lagi, tetapi lanskapnya tampak berbeda. hay/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Ekonomi
Paradoks Beras: Produksi Ti...
Nasional
Ketahanan Mental Kunci Gene...
Pengenalan Teknologi eVTOL Dinilai Kemenekraf Dapat Dongkrak Pertumbuhan Ekraf di Indonesia

Pengenalan Teknologi eVTOL Dinilai Kemenekraf Dapat Dongkrak Pertumbuhan Ekraf di Indonesia

25 Jun 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.