Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bumi Pernah Hujan Tanpa Henti Selama Dua Juta Tahun

📅 Kamis, 14 Nov 2024, 06:10 WIB | Oleh:
Bumi Pernah Hujan  Tanpa Henti Selama Dua Juta Tahun Doc: afp/ Arun SANKAR

Bumi pernah mengalami hujan tanpa henti selama dua juta tahun. Dipicu oleh melimpahnya karbon dioksida di atmosfer oleh peristiwa vulkanik, menyebabkan terjadinya perubahan iklim yang memicu turunnya air tanpa henti.

1731512091_123df84f777d46e7303f.jpg

Hujan tanpa henti pernah terjadi di akhir periode Trias, sebuah masa kehidupan yang berada sekitar lebih dari 234 juta tahun yang lalu. Saat itu Bumi dalam keadaan panas dan lembab. Pada kondisi ini menciptakan hujan berlangsung selama dua juta tahun.

Periode Trias diketahui telah menciptakan beberapa pergolakan besar dalam iklim, lanskap, dan kehidupan di Bumi. Salah satu yang paling tidak dikenal adalah Peristiwa Pluvial Karnian (Carnian Pluvial Event/CPE), sebuah peristiwa hujan yang berlangsung terus menerus selama dua juta tahun yang mengubah planet ini selamanya.

Lalu seperti apa Bumi sebelum hujan yang tak henti-hentinya ini? Pada saat itu, daratan utamanya adalah Pangea. Benua ini merupakan superbenua yang sangat besar yang ada pada zaman Paleozoikum dan Mesozoikum sekitar 250 juta tahun lalu, sebelum akhirnya terbelah menjadi beberapa bagian.

Pada masa itu Pangea pada dasarnya adalah gurun tandus yang sangat besar. Luasnya membentang dari Kutub Utara ke Kutub Selatan. Kehidupan tanaman kurang mengesankan karena hanya berupa tanaman gurun kecil yang tersebar di pasir. Sedangkan kehidupan hewan hanya terdiri dari serangga, reptil, mamalia, dan dinosaurus paling awal yang sangat purba.

Musim hujannya pun pendek dan jarang terjadi. Pegunungan di sekitar pedalaman mencegah hujan turun secara teratur. Hanya garis pantai yang mendapat bagian air. Suhu Bumi 10 derajat Celsius lebih hangat daripada sekarang dan suhu laut 47 derajat Celsius.

Selain memiliki benua raksasa bernama Pangea, Bumi juga memiliki satu samudra utama yang disebut Panthalassa. Superlautan purba yang mengelilingi superbenua Pangaea, dan merupakan nenek moyang dari Samudra Pasifik. Benua ini terbentuk sekitar 250 juta tahun yang lalu, dan ukurannya menyusut sejak pecahnya Pangaea, sejak 180 juta tahun yang lalu.

Panthalassa menjadi tempat tinggal ammonoid, gastropoda, spons, karang, dan spesies lainnya. Namun semua itu berubah ketika apa yang awalnya berupa beberapa awan gelap dan tetesan hujan segera berubah menjadi musim hujan dua juta tahun tanpa henti.

Anehnya, peristiwa ini jarang dibicarakan hingga sekarang, meskipun bukti tentangnya telah beredar sejak tahun ‘70-an, karena ketika membahas peristiwa kepunahan massal, para ilmuwan selalu berfokus pada “lima besar” yaitu Ordovisium-Silur, Devon, Permian-Trias, Trias-Jura, dan Akhir-Kapur.

Para ilmuwan melupakan bahwa hujan selama dua juta tahun juga menjadi salah satu penyebab kepunahan massal yang terjadi di Bumi. Beberapa peneliti menyalahkan posisi kronologis peristiwa yang aneh atas pengabaiannya.

Peristiwa itu tidak terjadi pada awal atau akhir era geologi utama, seperti yang sering mereka lakukan. Peristiwa itu tampaknya terjadi pada waktu yang sangat acak. Lalu apa penyebab hujan 2 juta tahun?

Teori utama untuk periode curah hujan yang panjang ini adalah bahwa serangkaian letusan gunung berapi yang kuat di sekitar Alaska di Amerika Serikat dan British Columbia di Kanada mengirimkan sejumlah besar karbon dioksida ke atmosfer.

Seperti yang terjadi saat ini, emisi karbon dioksida menyebabkan periode pemanasan global dan pengasaman lautan yang panjang. Hal ini menciptakan kelembaban yang tinggi, yang kemudian menyebabkan curah hujan yang sangat ekstrem.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Luar Negeri
Aksi Jual Pasar Teknologi M...

Wabah Ebola di Kongo Telah Tewaskan 4.381 Jiwa

19 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
Wabah Ebola di Kongo Telah ...

BMKG Prediksi El Nino akan Bertahan hingga Awal 2027

24 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
BMKG Prediksi El Nino akan ...
Advertisement
Penumpang LRT Sumsel Diimbau Kenakan Masker

Penumpang LRT Sumsel Diimbau Kenakan Masker

15 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.