Cerita Warga Pulau Mensemut, Menolak Pindah Meski Terancam Tenggelam
📅 Jumat, 08 Nov 2024, 15:30 WIB | Oleh: Tim PenulisMenurut cerita penduduk, dahulu ada lapangan bola dan terdapat bangunan sekolah dasar di pulau ini. Namun, abrasi merobohkan keduanya menjadi tebing. Bangunan Masjid yang ada saat ini pun sudah tiga kali roboh diterjang badai.
Mayoritas anak-anak Mensemut saat ini tidak bersekolah. Mereka menghabiskan hari untuk bermain ataupun menemani orang tua melaut. Kendatipun ada yang bersekolah, mereka harus pergi ke pulau lain untuk menimba ilmu.
Abrasi juga mengancam rumah-rumah penduduk, membuat jarak antara rumah dengan tepi pantai semakin dekat. Menurut cerita penduduk, abrasi dan badai memaksa mereka berpindah rumah dari pinggir ke tengah pulau.
“Dulu rumah Abang ni di sana (sambil menunjuk tepi Pantai), dua kali roboh karena tanah jadi longsor. Jadi tepi laut tu dulu, bekas rumah Abang. Dulu laut nya masih agak jauh dari rumah. Sekarang Abang pindah rumah agak masuk ke dalam pulau ni pun, air laut semakin dekat.” -Sadri, 38 tahun, warga Pulau Mensemut.
Saat musim angin utara (mulai November hingga Maret), badai datang lebih kencang. Selama musim tersebut, mereka bermigrasi pindah ke pulau lain untuk menghindari risiko apabila angin kencang merobohkan rumah atau pohon-pohon.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di antara mereka ada yang mengungsi ke Pulau Hantu. Ada juga yang berpindah ke Pulau Nona. Dengan perahu pompong (perahu motor), perjalanan ke dua pulau tersebut kurang lebih satu jam dari Pulau Mensemut.
Pulau Mensemut pun tak lagi memiliki air bersih. Pasokan air mereka peroleh dari menampung air hujan. Apabila musim panas tiba, mereka harus melakukan barter dengan hasil tangkapan mereka dengan kapal sucheng—kapal keliling penjaja kebutuhan sehari-hari di Perairan Lingga.
Sementara itu, jika penghasilan tidak mencukupi, mereka terpaksa mengangkut air dari Tanjung Niang (daratan Pulau Lingga) yang berjarak sekitar 3 jam perjalanan laut dari Mensemut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Masalah kesehatan pun menjadi catatan karena tak ada tenaga kesehatan apalagi fasilitas yang lengkap. Untuk berobat, warga terbiasa mengandalkan obat-obatan herbal yang tersedia di pepohonan (mereka menyebutnya hutan). Sementara itu, fasilitas kesehatan terdekat—dengan peralatan seadanya—berlokasi di Pulau Pena'ah yang berjarak satu jam menggunakan pompong.
Menolak pindah
Warga Mensemut memang mengkhawatirkan tempat tinggal mereka akan lenyap dalam puluhan tahun ke depan. Pulau ini pun tak lagi menyediakan semua kebutuhan dasar mereka.
Namun, hal itu bukan menjadi alasan mereka mau berpindah dari pulau ini.
“Ibu tidak pindah karena tidak betah mengemas semua perabotan. Banyak perabotan yang sayang kalau di tinggal, di sini ndak ada orang. Memang sering juga pindah ke Pulau Hantu dulunya, tapi ndak betah juga bolak balik bawa perabot banyak” Milah, 36 tahun, perempuan warga Mensemut.
Mereka justru khawatir, apabila berpindah di pulau lain, mereka tidak dapat mencari nafkah seperti di Mensemut.
“Ikan dan cumi di sini masih mudah dapat. Tak jauh-jauh dari pulau ni, dapat lah. Masih mudah lah, banyak orang dari pulau lain mencari ikan mencari cumi di dekat sini juga” Ju, 30 tahun, Ketua RT Pulau Mensemut.
Selain kekhawatiran dalam penghidupan sehari-hari, ada juga stigma warga desa dari pulau lain yang menganggap bahwa orang Suku Laut masih mistik dan memiliki ilmu hitam. Misalnya, sebelum berlayar ke Pulau Mensemut pun, saya diingatkan warga Pena'ah (orang Melayu kepulauan) agar tidak meludah ataupun kencing sembarangan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!