Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Cerita Warga Pulau Mensemut, Menolak Pindah Meski Terancam Tenggelam

📅 Jumat, 08 Nov 2024, 15:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Cerita Warga Pulau Mensemut, Menolak Pindah Meski Terancam Tenggelam Doc: The Conversation/Yayasan Kajang/Mongabay Indonesia
Ket. Foto udara Pulau Mensemut di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.

Nikodemus Niko, Universitas Maritim Raja Ali Haji

“Umur bapak sudah mau 70. Sejak kecil dulu dibawa sama bapak sama ibu pindah ke Mensemut. Dulu Mensemut ni besar, sekarang dah makin kecil.” -Iskandar, 60-an tahun, tetua masyarakat Suku Laut di Pulau Mensemut.

Bayangkan masyarakat yang hidup selaras dengan alam selama ratusan tahun, hidup lebih lama hanya untuk melihat tanah leluhur lenyap tergerus abrasi yang saban tahun semakin parah. Pepohonan di pulau kian berkurang. Binatang-binatang seperti tupai dan burung-burung pun tidak ada lagi yang hinggap.

Ini adalah situasi Pulau Mensemut yang terancam tenggelam karena perubahan iklim. Saya bersama lima mahasiswa meneliti kehidupan kaum adat Orang Suku Laut di Mensemut yang bertahan di tengah perubahan iklim sejak Juli 2024. Orang Suku Laut adalah nomad laut yang kini sudah banyak bermukim di daratan.

Pulau Mensemut (bernama Selentang di platform Google Maps) merupakan pulau kecil seluas tiga hektare di Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. Di pulau ini, hidup sekelompok Orang Suku Laut yang menjadikan laut sebagai ruang hidup dan sumber nafkah utama. Mereka menjaring rezeki dari mencari ikan, cumi, dan sebagainya.

Namun, perubahan iklim kini mengancam keberlangsungan hidup mereka. Cuaca ekstrem terjadi tanpa prediksi serta permukaan laut yang semakin naik mengancam kehidupan 15 kepala keluarga Orang Suku Laut yang bermukim sejak lama di Pulau Mensemut.

Warga Mensemut sejak 2012 mulai diminta pemerintah untuk berpindah ke pulau lain yang lebih aman. Pemerintah menganggap Pulau Mensemut sudah tidak lagi layak huni.

Namun, masyarakat Suku Laut di Pulau Mensemut berbeda pandangan. Mereka menganggap pulau itu adalah tempat paling indah, nyaman dan aman dari tempat manapun.

Pada umumnya, masyarakat adat memandang bahwa alam semesta adalah ibu yang merawat dan menyediakan segala kebutuhan manusia. Hubungan psikologis antara masyarakat adat dengan alam tidak terpisahkan, terutama terkait dengan ruang hidup mereka.  

Pun bagi Orang Suku Laut di Mensemut. Menurut mereka, menghadapi perubahan iklim bukan hanya tentang bertahan hidup, tetapi juga tentang menjaga memori dan identitas leluhur di pulau ini.

“Di Mensemut ini sudah sangat nyaman. Lahir di sini, banyak hal yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja di sini. Sudah sering kali pemerintah nyuruh kami warga Mensemut ni pindah. Mereka suruh Bapak cari pulau lain untuk bikin rumah.” –Iskandar.

Situasi ini tidak hanya dihadapi oleh masyarakat Suku Laut di Pulau Mensemut, tetapi juga oleh banyak kaum adat di seluruh dunia. Mereka kehilangan tanah, mata pencaharian, bahkan terpaksa berpindah tempat.

Hidup selingkar pulau

Perubahan iklim menimbulkan cuaca dan gelombang ekstrem yang menghantam daratan Pulau Mensemut. Walhasil, abrasi yang terjadi sejak 20 tahun silam mengikis daratan secara perlahan.

Saat ini, hampir sepertiga Mensemut telah tenggelam.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Asosiasi Ojek Online: Aturan Bagi Hasil 92:8 Persen Beri Dampak Nyata Pengemudi Ojol
    Preview komentar:
    Bener bang,,, potongan 8% itu hanya omon omon ...
    Betul tuh bang banyak bacot,,Lebel aja 8% hasil ...
  • Ketahanan Pangan Diperkuat Rp195,3 Triliun, Mampukah Harga Pangan Ikut Stabil?
    Preview komentar:
    Meskipun fokus RAPBN 2027 ini sangat kuat pada ...
  • Tenun Dinilai Menekraf Harus Ditampilkan Agar Nilai Ekonominya Berkembang
    Preview komentar:
    Langkah strategis Kementerian Ekraf dalam mensertifikasi desain tenun ...
Megapolitan
Solidaritas Sosial dengan K...
Insentif Motor Listrik Rp5 Juta Masih Tertahan, Tunggu Aturan Menkeu

Insentif Motor Listrik Rp5 Juta Masih Tertahan, Tunggu Aturan Menkeu

17 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.