Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Benarkah Main Video Game Dapat Meningkatkan Kinerja Kognitif?

📅 Sabtu, 19 Okt 2024, 16:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Benarkah Main Video Game Dapat Meningkatkan Kinerja Kognitif? Doc: ANTARA/Ida Nurcahyani
Ket. Ilustrasi - Bermain game online.

JAKARTA - Seorang ahli saraf dari Universitas Western di Kanada Profesor Adeian Owen mengatakan seseorang yang sering bermain gim video memiliki rata-rata kinerja kognitif 13,7 tahun lebih muda dibandingkan yang tidak bermain video gim.

"Individu yang jarang bermain gim video, bermain kurang dari lima jam per minggu di semua jenis gim, memiliki kinerja seperti orang-orang yang 5,2 tahun lebih muda," katanya yang dikutip dari laman Hindustan Times, Jumat.

Sebuah penelitian juga menemukan bahwa para pemain gim memiliki skor lebih baik dalam hal daya ingat, perhatian, dan keterampilan penalaran dibandingkan dengan mereka yang tidak bermain gim video.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa olahraga tingkat sedang selama 150 menit per minggu, sesuai dengan pedoman NHS, tidak meningkatkan daya ingat dan keterampilan berpikir seseorang tapi justru meningkatkan kesehatan mental.

Jenis permainan yang sering dimainkan oleh para gamer saat ini benar-benar sangat berbeda dari permainan pelatihan otak konsumen.

Ini termasuk gim teka-teki seperti Minecraft, Civilization, Hearthstone, dan Roblox, gim aksi bermain peran seperti The Witcher, Mass Effect, Fallout 4, Skyrim, Grand Theft Auto, dan Assassin's Creed, dan gim olahraga seperti FIFA, NHL, Mario Kart, Need for Speed, dan Rocket League.

Biasanya, permainan tersebut sangat menarik, strategis, dan dapat meningkatkan perhatian visual dan kecepatan pemrosesan, serta kemampuan memecahkan masalah, melalui pengulangan dan latihan yang intens.

"Setiap gamer juga tahu bahwa game-game ini dirancang untuk mengaktifkan sistem penghargaan otak, yang menyebabkan pelepasan neurotransmiter seperti dopamin. Hal ini juga dapat berdampak jangka panjang pada fungsi kognitif," kata Owen lebih lanjut.

Untuk penelitian yang dilakukan oleh Prof Owen dan rekan-rekannya di Science Museum Group di Inggris, 1.000 orang dewasa berusia antara 18 dan 87 tahun diminta untuk mengisi survei yang menjawab pertanyaan tentang kesehatan dan gaya hidup mereka, termasuk kondisi medis, tingkat pendidikan, dan status pekerjaan.

Mereka juga mengikuti tes otak yang mengukur berbagai aspek kognisi seperti pembelajaran, perhatian, persepsi, dan keterampilan memori.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Setop Impor Agar Petani Tebu Termotivasi Meningkatkan Produktivitas
    Preview komentar:
    Sebagai praktisi di industri pengolahan pangan, saya sangat ...
  • Tak Bisa Jalan Sendiri, Industri Besar Diminta Angkat IKM dan UMKM
    Preview komentar:
    Transformasi pendekatan CSR dari yang sekadar bantuan konsumtif ...
  • Kebergantungan Impor Naptha Bikin Industri RI Rawan Kena Guncangan Harga Global
    Preview komentar:
    Kenaikan harga bahan baku di sektor hulu akibat ...
Daerah
Tak Mau Warga Kelaparan Pem...
Daerah
Sekda Diperiksa KPK, Bupati...
Megapolitan
Bogor Diobrak-abrik KPK, Kl...
Luar Negeri
Nepal Bosah-baseh, 10.000 K...
Daerah
Pertinggi Cadangan Pangan B...
Ayo Buruan Daftar Jangan Sampai Ketinggalan! Pertamax Turbo Drag Fest 2026 Kembali Digelar

Ayo Buruan Daftar Jangan Sampai Ketinggalan! Pertamax Turbo Drag Fest 2026 Kembali Digelar

28 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.