Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tupperware Bangkrut, Sinyal Kejatuhan MLM di Era Digital

📅 Selasa, 08 Okt 2024, 15:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Bagi merek, memiliki jejaring sales yang berjenjang tinggi dan bisa menggelar acara penghargaan yang mewah bisa diartikan sebagai tolak ukur keberhasilan.

MLM juga bisa menghindarkan beberapa beban biaya besar seperti sewa dan upah, yang dapat membebani model ritel tradisional saat kondisi sulit. Sistem ini terdengar sempurna, bukan?

Sedang dalam tekanan

Penurunan penjualan dan profit para pemain besar MLM yang terjadi baru-baru ini disebabkan berbagai faktor kompleks pada makroekonomi dan budaya.

Masalah Tupperware sendiri sebenarnya sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Penjualan produk entitas ini sudah seret sejak kuartal III 2021. Dan puncaknya mereka harus merestrukturisasi utangnya pada tahun 2023.

Bahkan sebelum pengumuman kepailitannya ke publik, saham perusahaan yang terdaftar di bursa efek New York telah jatuh sekitar 75% sepanjang tahun 2024.

Gelombang keruntuhan MLM pun makin terlihat pada bulan Agustus lalu, ketika perusahaan MLM besar lainnya, raksasa parfum dan kosmetik Avon, juga mengajukan kepailitan. Seperti Tupperware, penjualan Avon juga berdarah-darah selama bertahun-tahun.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Roda terus (dan harus) berputar, baik didorong oleh waktu, masyarakat, atau budaya yang terus berkembang. Perubahan itu menghantam banyak MLM raksasa seperti Tupperware dan Avon yang dulu jaya menjadi menderita.

Dahulu perempuan lebih banyak yang jadi ibu rumah tangga ketimbang menjadi profesional di dunia kerja. Banyak para ibu rumah tangga ini yang mencoba peruntungan mengisi waktu luangnya dengan mengikuti MLM dan banyak yang sukses. Kisah-kisah sukses mereka memberikan berita baik tentang harapan di tengah kerasnya hidup saat membesarkan anak di pinggiran kota Australia pada pertengahan hingga akhir abad ke-20.

Tapi kini, rasio perempuan yang bekerja dengan ibu rumah tangga sudah terbalik. Alhasil skema MLM tidak lagi relevan sehingga banyak dari merek-merek ini juga harus menyesuaikan strategi mereka.

Avon sebenarnya menyadari hal ini tapi mungkin terlambat bertindak karena baru pada akhir 2023 mereka mengumumkan rencana untuk membuka toko fisik pertama di Inggris. Padahal perusahaan tersebut konsisten mengalami penurunan penjualan selama dekade terakhir.

Angela Cretu, yang saat itu menjabat sebagai CEO Avon, mengatakan:

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Kekeringan dan Gelombang Pa...
Rona
Tips Mengelola Bisnis Tempa...
Olahraga
Laga Pramusim: Liverpool Ta...

Kejuaraan Taekwondo Asia 2026 Digelar di Jakarta, Jadi Ajang Perebutan Poin Olimpiade Los Angeles 2028.

Kejuaraan Taekwondo Asia 2026 Digelar di Jakarta, Jadi Ajang Perebutan Poin Olimpiade Los Angeles 2028.

03 Aug 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.