Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tupperware Bangkrut, Sinyal Kejatuhan MLM di Era Digital

📅 Selasa, 08 Okt 2024, 15:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

"Dulu wanita tinggal di rumah, tetapi sekarang mereka pergi bekerja, dan kami harus mengikuti mereka ke mana pun mereka menghabiskan waktu dan membuat layanan ini semudah mungkin."

Gagal tanggap mereposisi brand

Kini, mengajak teman-teman untuk membantu meningkatkan hidupmu (sebagai sales MLM) tidak lagi terasa seperti kerja sama yang menguntungkan, kecuali bagi orang yang menerima uangnya.

Tupperware mungkin adalah wadah aman untuk bekal makan siang, tetapi tetap saja itu adalah milik ibumu. Tupperware memang memiliki nuansa retro, tetapi tidak selalu memiliki nuansa "keren".

Tupperware juga jadi korban kesuksesannya sendiri. Program garansi untuk mengganti tutup secara gratis merupakan salah satu program pemasaran paling ramah konsumen yang pernah ada.

Namun, sebagai strategi pemasaran di tengah penjualan yang lesu, strategi ini menekan minat konsumer untuk membeli produk baru. Akibatnya, meskipun produk baru yang inovatif sudah dipasarkan, penjualannya pasti akan anjlok.

Belum lagi, serbuan produk serupa dari kompetitor yang menawarkan harga lebih murah dengan desain sangat mirip, juga menjadi beban bagi merek ini.

Akhirnya setelah puluhan tahun melakukan penjualan berskema MLM, Tupperware melakukan perubahan radikal dengan memasukkan produknya ke rak-rak. Tapi langkah itu tidak efektif karena sudah terlalu terlambat untuk dilakukan pada tahun 2022. Sedangkan perubahan tren kepekerjaan perempuan, sosial, dan perdagangan daring sudah terjadi lebih dari satu dekade terakhir.

Ragam kerjaan dagang sampingan lain di era digital

Tupperware, seperti banyak MLM lainnya, tidak cocok dan terlambat mengantisipasi kemajuan pemasaran digital yang sudah terjadi dalam satu dekade terakhir. Pada saat yang sama, generasi baru side hustle (biasa berniaga sendiri) telah muncul dan berkembang-namun yang terpenting, dilakukan secara online.

Berbeda dengan model MLM, platform seperti Amazon atau Etsy memungkinkan seseorang memiliki toko virtual mereka sendiri, yang berpotensi memberikan penghasilan lebih tinggi di tahap awal.

Skema baru yang mereka lakukan tersebut mungkin masih memiliki tingkatan jenjang level, tetapi lebih mirip dengan waralaba daripada sistem berbasis tingkat. Kini, kita lebih sering mendengar istilah seperti afiliator, kolaborator, dan mitra untuk menggambarkan orang-orang di pasar daring.

Meski begitu, tetap banyak MLM tradisional yang bisa bertahan. Ikatan emosional antar merek dengan konsumen dalam MLM tetap menjadi hal yang diidamkan oleh pelaku niaga modern. Ibarat seleksi alam, tentu ada yang bisa bertahan, ada juga yang harus gugur.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Ilmuwan Ungkap Gletser Swis...
Nasional
BMKG Prediksi Musim Hujan 2...
Advertisement
Rocky Gerung Ungkap Tugas Wantimpres: Harus Kritis terhadap Kebijakan Presiden Prabowo

Rocky Gerung Ungkap Tugas Wantimpres: Harus Kritis terhadap Kebijakan Presiden Prabowo

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.