Harapkan Dukungan yang Sama untuk Atlet Difabel
📅 Sabtu, 05 Okt 2024, 11:05 WIB | Oleh: Benny Mudesta PutraSiapa sosok yang berpengaruh terhadap pencapaian hingga saat ini?
Bapak saya, karena saya tidak ingin melihatnya kecewa. Mungkin kebanyakan anak perempuan dekat sama ibunya, tapi saya yang paling saya kagumi Bapak saya. Beliau orangnya keras, dari kecil saya sudah dididik dengan keras dan disiplin. Saya pertama kali melihat air mata Bapak waktu saya kecelakaan. Dari situlah, bagaimana caranya bisa membuat Bapak bangga. Tapi waktu itu bukan sebagai atlet, tapi saat wisuda nanti. Itu yang membuat saya bertekad membuat beliau tidak pernah bersedih lagi. Apalagi Bapak itu merasa sangat tertekan ketika melihat saya patah, padahal lebih tertekan lagi saat melihat Bapak menangis. Orang yang kuat seperti itu, menangis melihat kondisi saya, padahal hati saya tidak serapuh itu waktu itu. Saya merasa saat itu mengecewakan beliau, saya ingin meyakinkan beliau bahwa saya tidak apa-apa.
Kapan pernah merasakan titik terendah dalam hidup?
Ketika saya kecelakaan mungkin saat itu merasakan titik terendah. Tapi setelah menjadi atlet lagi, itu saya rasakan di Asian Paragames 2018. Saat itu saya berlatih sangat keras, bangun duluan dari temanteman. Saya berangkat sebelum mereka bangun dan pulang setelah mereka tidur. Itu yang saya lakukan selama setahun dengan target yang saya tuju tiga emas. Untuk mix saya yakin, untuk double yakin, yang berat di single. Apalagi saat itu berlangsung di Indonesia saya ingin menunjukkan kemampuan saya, tapi ternyata saya kalah di single. Saat itulah saya merasa terpuruk. Saya kalah saat itu karena grogi. Saya merasa tertekan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bagaimana cara menjaga performa agar terus berprestasi?
Saya sering mendapat penghargaan barengan dengan atlet normal, seperti Kevin (Sanjaya), Greysia (Polli). Mereka bilang, kamu itu main tiga nomor, kalah di satu nomor terpuruk. Kami saja main di satu nomor belum tentu menang. Itu yang memotivasi saya. Di difabel ini saya menjaga performa saya dengan tidak peduli pada omongan orang lain. Saat saya capek, saya isi dengan cara saya sendiri. Kalau di pertandingan saya merasa lebih ke mental dibanding fisik. Kalau di latihan jauh lebih keras secara fisik daripada di pertandingan.
Kembali kepada kondisi saat awal bermain dengan kondisi lutut tidak normal, bagaimana beradaptasi dengan itu?
Sebaiknya Anda baca juga:
Pastinya rasa sakit. Badminton kan pas main pergerakan harus lincah untuk mengejar shuttlecock. Berlari ke sana ke mari maju mundur pasti beban di lutut terasa banget kan. Tapi, lama-kelamaan juga saya terbiasa sampai sekarang ini.
Sejak Asean Para Games Singapore 2015 sampai sekarang terkadang sering berganti partner dan main tiga sektor sekaligus, apakah berpengaruh juga pada saat di lapangan?
Dahulu sempat berpartner sama Fredy Setiawan dan pada akhirnya sekarang sudah tetap sama Mas Harry Susanto di sektor ganda campuran. Terkadang juga kalau partner saya tidak hadir seperti kemarin di Dubai Khalimatus Sadiyah Sukohandoko berhalangan disebabkan mengikuti UNAS, ya terpaksa saya mencari partner dari negara lain, dan akhirnya ada atlet dari Prancis, Faustine Noel, bersedia. Seperti halnya Mas Fredy kan juga sama di sektor ganda campuran juga sama atlet dari Skotlandia, Mary Margaret Wilson, dan di ganda putranya sama Kumar Nitesh dari India. Kalau main di tiga sektor memang capek banget, apalagi dari pertandingan satu ke yang lain istirahat cuman 20-30 menit, habis itu main lagi. Bagi kami, badminton adalah sudah pekerjaan, tetap membawa nama Indonesia di luar negeri.
Bagaimana dengan support dari suami dan untuk anak akan diarahkan ke mana?
Orangnya selalu support kepada saya di mana pun saya mengikuti turnamen berada. Suami pemain bola, saya bulu tangkis. Jadi tergantung anak. Tapi untuk saat ini, dia sih seringnya main bulu tangkis. Karena lebih sering memegang raket, ketimbang bola.
Ada pembicaraan mengenai price money untuk turnamen para-badminton. Apakah ada seperti atlet normal pada umumnya?
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!