Misteri Udara Bersih Antartika dari Aerosol Gunung Berapi
📅 Selasa, 01 Okt 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo BronoOCEANET dipasok daya dari stasiun penelitian, tempat ilmuwan TROPOS Dr. Martin Radenz juga tinggal selama 12 bulan operasi. Ia memastikan bahwa semua perangkat melakukan pengukuran tanpa gangguan. Ia adalah salah satu dari 10 orang yang menghabiskan musim dingin di malam kutub yang gelap di Stasiun Neumayer III.
"Dapat menghabiskan satu tahun di Antartika bersama komunitas tim kecil kami, alam yang menakjubkan, badai salju, dan keterasingan merupakan pengalaman yang unik," ungkap Radenz, dikutip dari Scitech Daily.
Sinar laser hijau dari lidar multipanjang gelombang, yang memindai atmosfer di atas Stasiun Neumayer III, merupakan hal baru di bagian Antartika ini. Lidar yang mengirimkan pulsa laser pendek dari tanah ke atmosfer dan menerima cahaya yang dihamburkan kembali dengan penerima khusus.
Informasi tentang ketinggian, kuantitas, dan jenis partikel tersuspensi (aerosol) di atmosfer dapat diperoleh dari waktu tempuh, intensitas, dan polarisasi sinyal yang dihamburkan kembali. Sampai saat ini, pengukuran terkait dengan radar awan dan lidar aerosol hanya dilakukan di stasiun McMurdo di sisi lain Antartika, 3500 kilometer jauhnya, yang berbatasan dengan Samudra Pasifik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berbeda dengan Neumayer III di atas lapisan es, stasiun McMurdo AS di sana dibangun di atas batu. Dari sini para peneliti juga berharap bahwa pengukuran yang dilakukan di stasiun ini yang berada di atas lapisan es akan memberi mereka wawasan baru tentang pembentukan awan di atas hamparan es yang luas di Antartika.
"Sangat menggembirakan bahwa, setelah COALA, AWI sekarang secara permanen menyebarkan perangkat penginderaan jarak jauh serupa di Stasiun Neumayer III bekerja sama dengan TROPOS. Ini akan memberikan kontribusi penting untuk merekam komponen iklim berumur pendek aerosol dan awan di Antartika," kata Profesor Andreas Macke, Direktur TROPOS dan Kepala Departemen Penginderaan Jarak Jauh Proses Atmosfer.
Letusan Gunung
Sebaiknya Anda baca juga:
Deteksi dan pengukuran cahaya dengan lidar memberi wawasan tentang berapa banyak partikel yang mengambang di atas bagian Antartika ini dan pada ketinggian berapa. Pada bagian bawah atmosfer (troposfer) dengan kondisi murni sebagian besar relatif bersih.
Sebaliknya, tim mengamati sejumlah besar partikel yang tak terduga antara ketinggian sekitar 9 kilometer dan 17 kilometer (stratosfer). Dari sifat optik aerosol yang diperoleh dari lidar dengan jelas menunjukkan aerosol sulfat, yang sebagian besar disebabkan oleh letusan gunung berapi.
"Aerosol ini diamati di stratosfer sejak Januari 2023 dan oleh karena itu kemungkinan besar terkait dengan letusan Hunga Tonga-Hunga Ha'apai pada Januari 2022," kata Radenz. hay/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!