Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Repatriasi Cagar Budaya Harus Libatkan Daerah Asal

📅 Senin, 30 Sep 2024, 03:23 WIB | Oleh:
Repatriasi Cagar Budaya Harus Libatkan Daerah Asal Doc: Unair
Ket. Adrian Perkasa.

JAKARTA - Dosen Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair), Adrian Perkasa, menilai, repatriasi atau pemulangan cagar budaya ke Indonesia harus mempertimbangkan daerah asal. Menurutnya, pemulangan ini tidak hanya menjadi sebuah rekognisi bagi bangsa, tetapi juga daerah-daerah di Indonesia sehingga pihak daerah harus terlibat.

"Jadi saya berharap barang-barang ini tidak hanya dikumpulkan atau distok di museum nasional. Harusnya misal itu dari Singosari, arca dari Candi Singosari ya harusnya kembali ke Candi Singosari," ujar Adrian, dalam laman resmi Unair, di Jakarta, Minggu (29/9).

Dia menilai, pemulangan benda cagar budaya ini bukan hanya sekadar wujud nasionalisme.

Menurutnya, repatriasi menjadi wujud rekognisi atau pengakuan identitas Indonesia sebagai bangsa.

"Kita sekarang sudah benar-benar setara, jadi barang apapun yang negara lain ambil pada masa kolonial. Khususnya yang negara lain ambil karena perang, karena barang rampasan dan sebagainya itu, karena kita setara kita bisa minta lagi," jelasnya.

Adrian mengungkapkan, upaya pemulangan benda cagar budaya asal Indonesia bukan perkara yang mudah. Menurutnya, proses pemulangan benda cagar budaya memerlukan data dan riset akademis yang kompleks.

"Ini mesti dimulai juga khususnya oleh Fakultas Ilmu Budaya untuk mulai memberikan perhatian terhadap riset-riset semacam ini. Jadi riset tidak hanya berbasis dokumen, tapi yang interdisipliner," terusnya.

Sebelumnya, Indonesia kembali memulangkan 288 benda cagar budaya buntut penandatanganan kesepakatan repatriasi atau pengembalian antara Indonesia dan Belanda di Wereldmuseum, Amsterdam pada Jumat (20/9). Pemulangan cagar budaya ini merupakan yang kedua menyusul repatriasi pertama pada pertengahan 2023 lalu.

Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemendikbudristek, Hilmar Farid, mengatakan, dua negara juga sudah menggelar studi provenans atau meneliti sumber atau asal-usul kepemilikan temuan arkeologi yang mendalam. Langkah tersebut untuk memastikan keaslian dan asal-usul setiap benda. ruf/S-2

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Advertisement
11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.