Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Budaya Tanpa Empati

📅 Jumat, 27 Sep 2024, 21:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Budaya Tanpa Empati Doc: istimewa
Ket. Dr Benny Susetyo

Oleh: Dr Benny Susetyo

Budayawan

Budaya kekerasan yang kian marak di Indonesia bukan sekadar cerminan krisis moral, tetapi juga mengungkap rapuhnya struktur sosial, hukum, dan pendidikan dalam mencegah serta menangani kekerasan. Hilangnya kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan menjadi salah satu aspek paling mencolok. Bagaimana mungkin seseorang tega melakukan kekejaman terhadap sesamanya? Apakah kemiskinan dan tekanan sosial benar-benar mampu mereduksi kemanusiaan hingga sebegitu brutal?

Jawaban atas fenomena ini tidak bisa hanya dicari pada ranah individual, melainkan harus dipahami sebagai masalah struktural masyarakat kita. Hilangnya nilai kemanusiaan adalah akar utama maraknya kekerasan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam setiap kasus kekerasan, baik yang mencuat di media maupun tidak, tampak pola perilaku yang menunjukkan absennya empati.

Ketika nyawa manusia dianggap tak berharga, tindakan sadis seperti pembunuhan dan pemerkosaan menjadi lebih mudah terjadi. Mengapa nilai-nilai kemanusiaan ini memudar? Apa yang membuat masyarakat yang dahulu menjunjung tinggi gotong royong dan kebersamaan kini berubah menjadi lahan subur bagi kekerasan dan kebrutalan?

Dalam realitas saat ini, perubahan sosial yang cepat sering kali tidak diimbangi dengan penyesuaian nilai-nilai moral yang memadai. Di tengah kemajuan teknologi dan globalisasi, masyarakat kerap mengabaikan nilai-nilai tradisional yang menjadi fondasi kemanusiaan, kebersamaan, dan solidaritas.

Ironisnya, nilai-nilai ini justru terkikis oleh tekanan untuk mencapai kesuksesan material dan individual. Tekanan hidup, terutama dalam konteks ekonomi, sering dijadikan alasan untuk mengabaikan nilai kemanusiaan, tetapi ini tidak cukup untuk membenarkan tindakan kekerasan.

Kasus kekerasan dengan motif ekonomi, seperti penculikan dan pembunuhan balita di Banten, mengungkap dengan gamblang bahwa masyarakat kita semakin melihat kekerasan sebagai solusi ekstrem dalam menghadapi kesulitan hidup. Ketika pelaku merasa terdesak oleh keadaan ekonomi, kekerasan dipilih seolah-olah itu satu-satunya jalan keluar.

Namun, sekadar menuding kesulitan ekonomi sebagai penyebab tidak hanya simplistik, tetapi juga berbahaya. Ada kegagalan yang jauh lebih mendasar dan sistemik yaitu kegagalan masyarakat kita dalam mempertahankan dan menginternalisasi nilai-nilai kemanusiaan.

Ketidakmampuan kita sebagai bangsa untuk menjaga nilai-nilai tersebut di tengah arus globalisasi yang semakin mengedepankan individualisme dan materialism menjadikan nilai-nilai yang dulu menjadi pondasi kehidupan bermasyarakat kini terabaikan.

Tekanan global, ditambah dengan obsesi akan kesuksesan material, telah menciptakan masyarakat yang mengutamakan keuntungan pribadi di atas kemaslahatan bersama. Ini bukan sekadar krisis ekonomi, ini adalah krisis moral yang jauh lebih dalamkemerosotan spiritual dan sosial yang meruntuhkan tatanan nilai-nilai kita sebagai bangsa.

Kegagalan ini bukan hanya tanggung jawab individu pelaku, tetapi cerminan dari rapuhnya sistem pendidikan, hukum, dan sosial. Alih-alih mengajarkan empati, solidaritas, dan kemanusiaan, masyarakat kita telah menormalisasi ketidakpedulian dan kekerasan. Inilah akar permasalahan yang harus segera diatasi. Jika tidak, kita akan terus menyaksikan penurunan moral yang semakin meluas, di mana kekerasan menjadi respons wajar terhadap tekanan hidup.

Hilangnya rasa kebersamaan dan solidaritas di masyarakat, disertai tekanan ekonomi, menjadi akar utama maraknya kekerasan di Indonesia. Dulu, budaya gotong royong memperkuat ikatan antarindividu, di mana setiap orang merasa bertanggung jawab satu sama lain. Namun, modernisasi dan urbanisasi telah menggerus nilai ini, menggantikannya dengan individualisme yang semakin dalam.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Apakah Ada yang Tahu Apa Itu Jelekongism

2 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Rona
Apakah Ada yang Tahu Apa It...

Pelatih PSS: Banyak Sekali yang Harus Dibenahi

2 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Pelatih PSS: Banyak Sekali ...
Olahraga
Marc Marquez Juara Sprint M...
Olahraga
Sinner Mundur dari Shanghai...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.