New Delta, Mega Proyek Irigasi untuk Swasembada Pangan Mesir
📅 Jumat, 13 Sep 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo BronoAtasi Kelangkaan
Beberapa hari lalu dalam pidatonya di Konferensi Air PBB 2023 yang diadakan di New York, AS, Sewilam mencatat bahwa Mesir mengalami defisit air hingga 55 persen dari kebutuhan airnya, sebesar 120 miliar meter kubik.
"Mesir melakukan investasi besar untuk meningkatkan efisiensi sistem airnya, yang melebihi 10 miliar dollar AS selama rencana lima tahun sebelumnya. Namun, Mesir juga menggunakan kembali air beberapa kali dalam kerangka ini dan terpaksa memperdagangkan impor pangan dalam jumlah besar senilai sekitar 15 miliar dollar AS," kata Sewilam.
"Air tanah dan sumur di Gurun Barat sangat asin di area ini, dan tingkat salinitasnya mencapai 10.000 bagian per juta," kata Noureddin yang mencatat bahwa tahap pertama proyek yang akan memanfaatkan lahan seluas 600.000 feddan, tidak akan membebani air Sungai Nil.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menyatakan bahwa Mesir adalah satu-satunya negara di antara negara-negara di Cekungan Sungai Nil yang mengimpor 65 persen dari kebutuhan pangan pokoknya. Selain itu ia menambahkan bahwa sebagian besar dari mereka menikmati swasembada tanaman.
Selama 70 tahun terakhir, kata dia, Mesir kehilangan sekitar 2,5 juta feddan lahan pertanian akibat perluasan perkotaan dan penggurunan. "Oleh karena itu, kami (warga Mesir) memiliki hak untuk mengganti apa yang hilang di tanah pertanian dan untuk memastikan ketahanan pangan," kata Noureddin.
Sewilam sebelumnya mengatakan bahwa Mesir adalah salah satu negara yang paling terdampak oleh perubahan iklim, dengan mencatat bahwa negara tersebut mengalami kelangkaan air, suhu tinggi, erosi dan intrusi air asin ke air tawar, yang pada gilirannya akan berdampak buruk pada tanah-tanahnya yang paling subur yaitu Delta Nil kuno.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sumber daya air negara tersebut meliputi 55,5 miliar meter kubik yang berasal dari Sungai Nil, 1,3 miliar meter kubik dari curah hujan dan 2,4 miliar meter kubik dari sumber bawah tanah, menteri tersebut menambahkan.
"Mesir menerima curah hujan dalam jumlah terbatas yang tidak dapat diandalkan," ungkap Sewilam, seraya menambahkan bahwa pemerintah tidak dapat bergantung pada air bawah tanah karena tidak dapat diperbarui.
Oleh karena itu, pemerintah berupaya untuk menggunakan kembali air pertanian. Negara yang jumlah penduduknya saat ini diperkirakan mencapai 104,7 juta jiwa akan melampaui 150 juta jiwa pada tahun 2050.
Proyek tersebut diharapkan dapat mengatasi kelangkaan air dengan mengimpor 54 persen air virtualnya, yang merupakan air tertanam yang dibutuhkan untuk memproduksi komoditas, dan menggunakan kembali 42 persen air terbarukannya sesuai dengan Rencana Sumber Daya Air Nasional tahun 2017-37. hay/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!