Presiden Terpilih Iran Siap untuk 'Dialog Konstruktif' dengan Eropa
📅 Senin, 02 Sep 2024, 09:51 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: anews.com.tr
TEHERAN - Presiden terpilih Iran Masoud Pezeshkian mengatakan ia berharap hubungan dengan negara-negara Eropa membaik, meskipun ia menuduh mereka mengingkari komitmen untuk mengurangi dampak sanksi AS.
Pezeshkian memenangkan pemilihan putaran kedua melawan mantan negosiator nuklir ultra konservatif Saeed Jalili minggu lalu.
Pria berusia 69 tahun itu menyerukan "hubungan konstruktif" dengan negara-negara Barat untuk "mengeluarkan Iran dari isolasinya", dan mendukung menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dan kekuatan global.
Amerika Serikat secara sepihak menarik diri dari kesepakatan tersebut pada tahun 2018, dan memberlakukan kembali sanksi, yang menyebabkan Iran secara bertahap mengurangi komitmennya terhadap ketentuan kesepakatan tersebut. Kesepakatan tersebut bertujuan untuk mengekang aktivitas nuklir Iran yang menurut Teheran bertujuan damai.
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan Jumat (30/8) malam di surat kabar berbahasa Inggris Tehran Times, Pezeshkian mengatakan, setelah AS menarik diri dari kesepakatan 2015, negara-negara Eropa berkomitmen untuk mencoba menyelamatkannya dan mengurangi dampak sanksi AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Negara-negara Eropa telah mengingkari semua komitmen ini," tulis Pezeshkian.
"Meskipun ada kesalahan-kesalahan ini, saya berharap dapat terlibat dalam dialog yang konstruktif dengan negara-negara Eropa untuk menempatkan hubungan kita di jalur yang benar, berdasarkan prinsip-prinsip saling menghormati dan kedudukan yang setara."
Ia mengatakan kedua pihak dapat mengeksplorasi "berbagai bidang kerja sama" jika Eropa "menyingkirkan supremasi moral yang dibuat-buat yang disertai dengan krisis yang dibuat-buat yang telah mengganggu hubungan kita selama ini."
Sebaiknya Anda baca juga:
Juru bicara Uni Eropa Nabila Massrali sebelumnya mengucapkan selamat kepada Pezeshkian atas pemilihannya, dengan mengatakan blok beranggotakan 27 negara itu "siap untuk terlibat dengan pemerintahan baru sejalan dengan kebijakan Uni Eropa tentang keterlibatan kritis".
Meninggalnya presiden ultra konservatif Ebrahim Raisi dalamkecelakaanhelikopter mengharuskan pemilu digelar tanggal 6 Juli, yang seharusnya dilaksanakan pada tahun 2025.
Dalam putaran kedua, Pezeshkian memperoleh sekitar 54 persen suara melawan Jalili yang sekitar 44 persen, dengan jumlah pemilih hampir setengah dari 61 juta pemilih Iran.
Pezeshkian adalah seorang ahli bedah jantung yang satu-satunya pengalaman pemerintahannya adalah sebagai menteri kesehatan sekitar dua dekade lalu.
Ia dianggap sebagai seorang "reformis" di Iran, dan merupakan satu-satunya kandidat dari kubu tersebut yang diizinkan untuk mencalonkan diri dalam pemilihan umum, yang mana semua pesaingnya disetujui oleh Dewan Wali Iran.
AS Harus Hadapi 'Kenyataan'
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!