Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Mengapa Orang Korea Utara Dilarang Menggunakan Jeans?

📅 Senin, 26 Agu 2024, 13:49 WIB | Oleh:


Simbol pembangkangan

Sepanjang sejarah, jeans lebih dari sekadar pakaian kasual, jeans sering kali menjadi simbol perlawanan. Pada tahun 1960an dan 70an, mereka menjadi seragam gerakan tandingan budaya di seluruh dunia.

Mulai dari aktivis hak-hak sipil di Amerika Serikat hingga pengunjuk rasa anti kemapanan di Eropa, jeans adalah cara untuk mengatakan, "Saya tidak menyesuaikan diri."

Bagi rezim Kim, yang terkenal paranoid terhadap segala bentuk perbedaan pendapat, bahkan sedikit pemberontakan pun tidak dapat diterima. Pemerintah sangat waspada, terus-menerus memantau warganya untuk melihat tanda-tanda ketidaktaatan. Dengan melarang jeans, rezim Tiongkok menghilangkan segala potensi simbol perlawanan, betapapun kecilnya simbol tersebut.

Dalam masyarakat yang pemerintahnya menginginkan kontrol penuh, tindakan pembangkangan sekecil apa pun seperti mengenakan jeans, dapat dianggap berbahaya.


Polisi mode

Jadi, bagaimana Korea Utara memastikan tidak ada yang melanggar aturan ini? "Polisi mode", sebuah unit khusus yang berpatroli di jalan-jalan untuk menegakkan aturan berpakaian yang ketat di negara tersebut. Petugas ini mewaspadai pelanggaran apa pun, termasuk penggunaan celana jins. Jika seseorang ketahuan memakainya, mereka bisa menghadapi konsekuensi serius, denda, dipermalukan di depan umum, atau bahkan penjara.

Polisi mode tidak hanya bertugas menangkap pelanggar aturan; Mereka juga berperan dalam mendidik masyarakat tentang pentingnya menjaga penampilan sosialis yang baik. Hal ini selalu menjadi pengingat bahwa di Korea Utara, apa yang Anda kenakan bukan hanya tentang tampil menarik, tetapi tentang menunjukkan kesetiaan kepada rezim.

Bagi seseorang di luar Korea Utara, gagasan pelarangan jeans mungkin tampak konyol. Namun dalam konteks masyarakat Korea Utara, hal ini agak masuk akal.

Larangan ini merupakan cerminan dari upaya rezim yang lebih luas untuk mengendalikan setiap aspek kehidupan warganya. Ini adalah cara untuk memastikan bahwa orang-orang tidak mulai berpikir sendiri, bahwa mereka tidak menginginkan kebebasan dan individualisme yang dilambangkan jeans.

Di Korea Utara, jeans bukan sekadar jeans. Mereka adalah simbol dari segala hal yang ditakuti rezim ini, pengaruh Barat, pemberontakan, dan hilangnya kendali. Larangan terhadap jeans hanyalah salah satu contoh bagaimana rezim Kim menggunakan detail terkecil sekalipun untuk mempertahankan kekuasaannya, tidak hanya membentuk cara hidup masyarakat, namun juga cara berpikir mereka, hingga pakaian yang mereka kenakan.


Di dunia di mana sesuatu yang sederhana seperti celana jins dapat dilihat sebagai ancaman, jelas bahwa Korea Utara adalah tempat di mana kontrol adalah hal yang terpenting, dan di mana keinginan untuk kebebasan dan ekspresi diri, dilambangkan dengan sesuatu yang biasa seperti denim. , masih sangat hidup, meski harus tetap tersembunyi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.