Chandrayaan-3 Buktikan Bulan Awalnya Berupa Samudra Magma
📅 Senin, 26 Agu 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: afp/ ISRO
Permukaan Bulan dulunya merupakan samudra magma. Material yang berat besi mengendap di bawah membentuk mantel, sedangkan mineral yang ringan seperti silika mengapung ke atas lautan lalu membeku membentuk kerak Bulan.
Sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu di tengah kekacauan tata surya awal, Bumi muda diguncang oleh tabrakan dahsyat dengan planet lain seukuran Mars. Puing-puing yang terlempar ke luar angkasa akhirnya membentuk bola cair dari batuan yang mencair.
Saat itu Bulan yang ditutupi samudra magma yang menutupi seluruh permukaannya. Secara perlahan, samudra magma itu kemudian mendingin dan memadat, membentuk satelit Bulan pendamping Bumi yang hampa udara dan menghiasi malam.
Begitulah teori terbentuknya Bulan. Para ilmuwan berpikir Bulan terbentuk dan skenario tersebut. Teori ini menjadi lebih jelas saat ini berkat publikasi bukti samudra magma purba yang dikumpulkan setahun yang lalu oleh penjelajah robotik Bulan India.
Dalam laporan penelitian yang dipublikasikan pada 21 Agustus oleh tim yang semuanya orang India di jurnal Nature, memaparkan analisis penjelajah terhadap komposisi batuan di lokasi pendaratannya adalah yang pertama dari jenisnya yang berasal dari wilayah kutub selatan Bulan. Area tersebut sebelumnya masih menjadi teka-teki, hingga temuan ini memperluas bukti lebih jauh ke seluruh Bulan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Analisis sebelumnya terhadap komposisi permukaan Bulan terbatas pada wilayah ekuator dan lintang tengah. Misi ke Bulan oleh India menjadi tanda kemajuan berkelanjutan negara ini dalam eksplorasi Bulan.
Sebelumnya komposisi permukaan Bulan telah diselidiki oleh misi surveyor robotik Amerika Serikat (AS) dan oleh analisis laboratorium sampel Bulan yang dibawa oleh misi Apollo, serta tim Luna Russia dan Chang'e 3 Tiongkok.
Analisis dari masing-masing lokasi ini menunjukkan komposisi yang secara umum serupa, yang menunjukkan bahwa semuanya berasal dari satu kumpulan magma. Namun, data dari wilayah kutub diperlukan untuk mendukung teori bahwa lautan magma Bulan meluas ke seluruh permukaannya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Wahana pendarat Vikram milik India mendarat pada 23 Agustus 2023 setelah diluncurkan dengan roket Chandrayaan-3 dari Pusat Antariksa Satish Dhawan di Sriharikota, Negara Bagian Andhra Pradesh. Lokasinya pendaratannya hanya berjarak 390 mil atau 630 kilometer dari kutub selatan Bulan.
Wahana pendarat tersebut kemudian mengerahkan sebuah penjelajah bernama Pragyan yang diambil dari bahasa Sansekerta untuk "kebijaksanaan". Rover ini dirancang mampu menganalisis komposisi kimia permukaan Bulan di dekat lokasi pendaratan. Dalam 10 hari setelah pendaratannya, penjelajah Pragyan menempuh jarak 340 kaki atau 103 meter.
Untuk menganalisis komposisi sampel batuan, instrumen spektrometer Sinar-X Partikel Alfa (APXS) penjelajah tersebut menyinari sampel dengan partikel alfa dan sinar-X yang dipancarkan dari sumber radioaktif internal. Dengan mengukur energi partikel alfa yang tersebar dan fluoresensi sinar-X dari sampel target, para peneliti dapat menentukan susunan unsur sampel.
Jangkauan instrumen APXS tidak dapat menembus lebih dari satu milimeter ke permukaan, tetapi dengan mempelajari tanah yang diaduk oleh roda penjelajah Pragyan. Dari sampel ini para teknisi misi dapat menganalisis sampel sedalam beberapa sentimeter.
Lokasi pendaratan, yang sekarang disebut Point Shiv Shakti istilah Hindu untuk kekuatan alami pria dan perempuan yang menjaga keseimbangan di alam semesta, terbukti sangat seragam dalam komposisi. Dari analisis terhadap 23 lokasi di sekitar lokasi pendaratan Vikram secara konsisten mengungkapkan keberadaan anortosit feroan.
Perkuat Teori
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!