Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Persaingan Adidaya Ancam Kepulauan Pasifik

📅 Kamis, 22 Agu 2024, 02:40 WIB | Oleh:
Persaingan Adidaya Ancam Kepulauan Pasifik Doc: AFP/ANDRES MARTINEZ CASARES
Ket. Pertemuan Bilateral l ­PM Fiji, Sitiveni Rabuka (kedua di kiri) saat bertemu dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping (kanan) di Balairung Agung Rakyat di Beijing pada Selasa (20/8) lalu. Sebuah laporan lembaga pemikir menyatakan bahwa guncangan geopolitik dapat mengganggu lanskap politik dan keamanan dan merusak persatuan di kawasan Kepulauan Pasifik di tengah persaingan strategis antara Tiongkok dan sekutu AS.

SYDNEY - Guncangan geopolitik dapat mengganggu lanskap politik dan keamanan dan merusak persatuan di kawasan Kepulauan Pasifik di tengah persaingan strategis antara Tiongkok dan sekutu Amerika Serikat (AS). Hal ini diungkapkan oleh sebuah laporan lembaga pemikir memperingatkan menjelang pertemuan puncak tahunan para pemimpin Kepulauan Pasifik.

"Negara-negara Kepulauan Pasifik dihargai dalam rencana pertahanan negara-negara besar dunia karena lokasinya yang strategis, termasuk untuk memantau dan mengendalikan pergerakan angkatan laut di Samudra Pasifik," demikian laporan Lowy Institute.

Laporan lembaga pemikir ini mencatat persaingan yang intens antara negara-negara seperti Tiongkok, AS, serta sekutunya, Australia dan Jepang, untuk mendapatkan pengaruh di wilayah tersebut.

"Penjangkauan dan aktivitas Tiongkok di kawasan ini tampaknya tidak kenal lelah dan diimbangi oleh sekutu AS, termasuk donor bantuan terbesar, Australia," kata lembaga pemikir itu.

"Menghadapi 'permainan besar' baru ini, negara-negara Kepulauan Pasifik telah menjadi penentu harga secara diplomatis dan memanfaatkan peningkatan persaingan untuk memaksimalkan manfaat pembangunan," kata penulis laporan untuk Lowy Institute, Mihai Sora, Meg Keen, dan Jessica Collins.

Laporan ini memperingatkan bahwa persaingan strategis yang tak terkendali ini menantang tata kelola yang baik dan transparansi, dan negara-negara kecil di Kepulauan Pasifik berisiko kewalahan.

Kepentingan negara-negara donor yang saling bersaing telah menarik Kepulauan Pasifik ke arah yang berbeda, membebani birokrasi yang kecil, dan berisiko mengganggu prioritas lokal, lapor Lowy Institute.

Manfaatkan Kerentanan

Tiongkok telah menjadi pemain utama di kawasan ini, dalam bidang keuangan pembangunan, pelabuhan, bandara, dan telekomunikasi, serta berupaya mendapatkan peran yang lebih besar di bidang militer, kepolisian, konektivitas digital, dan media.

Kerentanan Kepulauan Pasifik terhadap perubahan iklim juga dimanfaatkan, dengan mitra eksternal yang menawarkan bantuan untuk akses ke Pasifik, kata laporan itu, tanpa menyebutkan nama negaranya.

"Memobilisasi aset angkatan laut dan udara untuk tanggap bencana melibatkan pengamanan hak untuk menggunakan pelabuhan, landasan udara, dan rute maritim, yang mendorong negara-negara besar berebut untuk menjadi pihak pertama yang merespons," ungkap laporan itu.

Tiongkok telah menjadi tuan rumah bagi tiga pemimpin Kepulauan Pasifik untuk tur panjang di negara Asia utara tersebut menjelang pertemuan para pemimpin Forum Kepulauan Pasifik di Tonga, yang dimulai pada Senin (26/8) mendatang.

Perdana Menteri Fiji, Sitiveni Rabuka, telah bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing pada Selasa (20/8) lalu, bahkan ketika pemerintah Fiji menandatangani kesepakatan dengan Korps Perdamaian AS untuk merekrut insinyur perangkat lunak dan mengumumkan Google akan membangun pusat data senilai 200 juta dollar AS untuk mendukung kabel bawah laut baru.

Sedangkan para pemimpin Vanuatu dan Kepulauan Solomon mengunjungi Tiongkok pada bulan Juli.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

24 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...

Peremajaan lahan perkebunan kelapa

33 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Peremajaan lahan perkebunan...
Olahraga
Formula 1: Antonelli Harus ...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.