Menelusuri Jejak Seni Wayang Tiongkok Kuno di Kota Santri
📅 Sabtu, 13 Jul 2024, 06:10 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SToni menjelaskan, saat tiba di Kota Santri itu, mendiang kakeknya, Tok Su Kwi, yang juga seorang dalang dari Coan Ciu, Provinsi Hokkian, Tiongkok, tidak hanya membawa ratusan boneka Potehi, tapi juga memboyong panggung dan berbagai alat musik untuk pementasan.
"Kakek saya mementaskan Wayang Potehi keliling ke kelenteng-kelenteng, seperti tahun 1933 di Surabaya," tutur dia. "Ada 5 ribu lebih boneka Potehi yang kami koleksi di sini. Sekitar 110 adalah boneka kuno asli dari Tiongkok yang dibawa oleh kakek saya. Lainnya peninggalan dalang jaman dulu seperti dari Liem Sing Yje Wan dari Tulungagung, juga hasil para pengrajin," imbuh dia.
Toni menjelaskan, dari berbagai koleksi museum tersebut, peninggalan kakeknyalah yang paling berharga berupa ratusan boneka wayang Potehi dari zaman dinasti Tiongkok kuno yang dipajang di sebuah lemari kaca, serta panggung kayu peninggalan grup kesenian Wayang Potehi sang kakek, Fu He An.
"Wayang-wayang hasil pengrajin kami juga diminati oleh kolektor. Tapi khusus yang asli Tiongkok dari kakek saya, tidak mungkin kami lepas," ujar dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hingga kini, Toni masih menyempatkan berburu boneka Wayang Potehi bila ia sedang membawa rombongan pemain untuk pentas, baik itu di dalam maupun luar negeri. "Beberapa koleksi museum ini ada juga dari kelenteng di Semarang, ada yang dari Taiwan, Penang, dan tempat lain," papar dia.
Ketelitian Pengrajin
Toni Harsono harus berjuang untuk melestarikan kesenian Wayang Potehi. Niat itu tidak mudah. Bertahun-tahun ia harus pontang-panting untuk mencari referensi tentang wujud boneka Potehi yang asli.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Waktu saya ke asal Potehi di Hokkian, bentuknya sudah banyak yang dimodifikasi sesuai selera pemainnya sekarang, sehingga saya harus berkeliling ke Taiwan atau ke kelenteng-kelenteng kuno di sini," ungkap dia. "Karena ada beberapa boneka yang saya rasa tidak cocok dengan karakternya, maka saya mempunyai inisiatif untuk membuat sendiri boneka Potehi dari berbagai peninggalan asli atau catatan kuno yang ada," tutur dia.
Dengan referensi yang terbatas tersebut, Toni kemudian merekrut beberapa pekerja untuk memproduksi Wayang Potehi sesuai dengan aslinya. Setiap pembuat wayang bekerja sesuai keahlian masing-masing, contohnya pembuat kepala, tubuh dan kaki, serta busana yang akan dikenakan.
Uniknya, para pekerja atau pemahat yang direkrut, justru tidak memiliki latar membuat boneka Wayang Potehi sama sekali. Pemilihan para pekerja lebih didasarkan kecocokan dalam bekerja sama serta minat antusias mereka terhadap upaya pelestarian seni Wayang Potehi.
Saat ini, bengkel di lingkungan Museum Wayang Potehi Gudo memiliki 10 orang perajin. Mereka terdiri dari 5 orang pembuat kepala wayang, pembuat kaki dan tangan 4 orang, serta untuk pengecatan 1 orang.
Mulyono, 50 tahun, warga Desa Pesanggrahan, Gudo, adalah salah satu pembuat wayang yang telah bekerja dilingkungan Museum Potehi, Jombang, sejak tahun 2020. Pria yang memiliki profesi awalnya sebagai tukang batu ini sudah mulai bekerja di berbagai proyek bangunan di sekitar Jombang karena diajak oleh orang tuanya .
"Tapi cari pekerjaan susah, kesana-kemari belum tentu dapat. Karena nukang penghasilan tidak pasti, lalu diajak untuk membuat kepala wayang dan hingga sekarang setiap hari ada pesanan," ungkap dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!