Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Negara Harus Jamin Akses Pangan Berkualitas

📅 Senin, 10 Jun 2024, 08:31 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Negara Harus Jamin Akses Pangan Berkualitas Doc: ANTARA

JAKARTA - Kemudahan akses pangan berkualitas dan pemberian pangan bergizi menjadi kunci utama bagi pemerintah mengatasi masalah kelaparan dan kemiskinan. Sebab, laporan Unicef terbaru menyebutkan satu dari empat anak di bawah usia lima tahun (balita) mengalami kemiskinan pangan parah.

Peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa, menegaskan untuk Indonesia, perlu ada jaminan hidup, khususnya pangan bergizi bagi anak-anak dari keluarga miskin atau prasejahtera dan rawan stunting.

"Ini sangat penting agar masalah kemiskinan dan stunting di Indonesia khususnya tidak semakin parah," tegasnya kepada Koran Jakarta, Minggu (9/6).

Awan mengaku miris dengan laporan terbaru lembaga resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu seraya berharap agar di Indonesia masalah ini tidak terlalu parah.

"Selain bekerja sama dengan program pokok pemberdayaan kesejahteraan keluarga (PKK), bisa juga dengan koperasi, atau UMKM catering/warung makan setempat untuk menyiapkan dan membagikan paket makan bergizi," ucapnya.

Peneliti Sustainability Learning Center (SLC), Hafidz Arfandi, menyoroti secara khusus intervensi pemerintah dalam mengatasi masalah akses pangan dan kesehatan. Makanya menurut dia, akses pangan dan kesehatan ini perlu dikembangkan sampai tingkat terbawah di layanan Pusat Kesehatan Masyarakat (puskesmas).

"Peluang intervensi yang lebih efektif dapat juga dilakukan dengan revitalisasi dan dukungan penuh untuk gerakan PKK dan pos pelayanan terpadu (posyandu) untuk menjadikan keduanya menjadi pilar penyelesaian masalah kemiskinan dan perbaikan kualitas generasi mendatang," jelasnya.

Faktor Kemiskinan

Hafid melanjutkan faktor kemiskinan memang menjadi masalah dominan sehingga anak tidak mendapatkan dukungan memadai dari keluarganya untuk mengakses makanan bergizi dan layanan kesehatan secara optimal. Namun, faktor yang juga tidak kalah penting adalah soal budaya dan akses literasi dan pengetahuan orang tua untuk memberikan dukungan optimal terhadap tumbuh kembang anak.

"Bagi keluarga miskin, keduanya menjadi rantai setan yang harus diputus, anak-anak keluarga miskin cenderung tidak mendapatkan dukungan optimal dan pada akhirnya menularkan kemiskinan pada generasi berikutnya," ucap Hafids.

Menurutnya, akar permasalahan utama yang sangat berisiko lebih pada pernikahan dini dan ketidaksiapan keluarga yang terlalu muda untuk mengelola pertumbuhan anak-anaknya. Akibatnya, banyak terjadi kasus stunting yang linear dengan rasio pernikahan dini.

Selain itu juga, lanjutnya, perlunya dukungan khusus dan konseling yang mudah diakses untuk orang tua dari keluarga miskin.

Seperti diketahui, laporan Unicef menyebutkan sekitar 27 persen anak di bawah usia lima tahun atau 181 juta diberi makan tidak lebih dari dua dari delapan kelompok makanan per hari. Kondisi itu digolongkan Unicef sebagai kemiskinan pangan yang parah.

Jika anak-anak tidak mengonsumsi nutrisi penting, mereka cenderung mengalami wasting, bentuk malnutrisi paling parah. "Jika wasting semakin parah, mereka 12 kali lebih mungkin berisiko meninggal dunia," kata Harriet Torlesse, salah seorang penulis laporan tersebut, kepada kantor berita The Associated Press, beberapa waktu lalu.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Pengamat : Salvage KMP Batumandi Patut Dicontoh

37 menit yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Pengamat : Salvage KMP Batu...

Jakarta Merintis Diri Menjadi Hub Ekonomi Kreatif

38 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Jakarta Merintis Diri Menja...
Daerah
Mau Tahu Alasan Dedi Mulyad...
Ekonomi
GoPay Permudah Masyarakat I...
Megapolitan
Waoooww….Warga Bandung ak...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.