Produksi Film Anak Indonesia Minim, Hasil Riset Temukan Solusinya
📅 Senin, 20 Mei 2024, 14:31 WIB | Oleh: Tim PenulisSebagian sineas beranggapan bahwa memproduksi film anak itu sulit, terutama yang melibatkan anak-anak di dalam produksi filmnya. Berhadapan dengan anak-anak dalam sebuah produksi film memerlukan upaya khusus yang tidak mudah untuk dipelajari.
Riset kami menemukan metode produksi yang belum atau tidak banyak muncul di produksi-produksi film sebelumnya, terutama produksi film yang melibatkan anak-anak sebagai tokoh sentral, yaitu:
1. Berpusat ke anak dan lingkungan sekitarnya
Metode produksi di keenam film tersebut berupaya menempatkan anak-anak sebagai subjek utama. Caranya, para sineas, terutama sutradara, dengan sungguh-sungguh melatih anak-anak dampingan dari lembaga pemerhati anak yang belum pernah main film.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia meluangkan waktu hingga sepuluh kali untuk berlatih bersama anak-anak melalui teknik permainan yang cocok bagi mereka, meski harus bolak-balik sekitar dua jam perjalanan. Hal ini dilakukan karena anak-anak bukan pemain film profesional sekaligus agar mereka mengalami proses belajar sambil bermain. Proses yang khas ini tentu berbeda dengan produksi film anak dengan talent yang sudah terlatih atau terbiasa di depan kamera.
Metode yang lain adalah menggunakan rumah, sekolah, jalan, kebun, sungai, dan tanah lapang di sekitar lingkungan anak-anak sebagai tempat berlatih sekaligus lokasi syuting. Anak menjadi nyaman dan akrab dengan setting film. Jam latihan pun tidak menyita waktu istirahat-tidak pernah sampai malam.
Alhasil, anak-anak jadi lebih percaya diri dan menikmati syuting layaknya bermain bersama. Kru dewasa yang terlibat juga bersepakat untuk menciptakan suasana yang familier bagi anak-anak. Selain itu, para fasilitator dari lembaga pemerhati anak selalu mendampingi proses syuting supaya atmosfer "bermain" dapat terpelihara.
Sebaiknya Anda baca juga:
2. Melibatkan guru dan orang tua
Metode produksi ini juga melibatkan orang tua dari anak-anak yang ikut bermain film. Mereka menyediakan basecamp syuting, memasak untuk seluruh kru produksi hingga membantu mengondisikan jalan-jalan dan ruang publik lain supaya syuting dapat berjalan lancar.
Guru dan kepala sekolah tidak mau kalah. Sejak latihan pertama, sekolah menyediakan berbagai fasilitas, seperti ruang kelas untuk berlatih, minuman dan makanan saat latihan maupun syuting, maupun pengaturan waktu supaya anak-anak tetap bisa sekolah dan bermain film dengan nyaman. Tak hanya mendampingi, pihak sekolah juga mempelajari metode latihan sang sutradara untuk mengembangkan metode pembelajaran di kelas.
Begitu selesai, film diputar pertama kali di hadapan anak-anak yang bermain film, warga masyarakat sekitar lokasi syuting, dan pengelola sekolah. Anak-anak juga diajak untuk berinteraksi dengan penonton serta menjawab pertanyaan pada sesi tanya jawab ketika film tersebut diputar di tempat lain. Sehingga, proses produksi film menjadi milik bersama.
Metode produksi ini, yang kemudian menjadi "metode produksi ramah anak", mewakili dua kepentingan besar: anak butuh ruang belajar dan bertumbuh yang sesuai, sedangkan pembuat film memerlukan gambar yang artistik serta menjual.
Alih-alih "memaksa" anak untuk terlibat dalam aktivitas orang dewasa dalam industri film dengan berbagai tuntutan, metode ini juga memenuhi kebutuhan anak untuk belajar, bermain, dan berkembang tanpa harus terlalu banyak 'mengorbankan' pencapaian film.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!