Produksi Film Anak Indonesia Minim, Hasil Riset Temukan Solusinya
📅 Senin, 20 Mei 2024, 14:31 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: vidio.com
Emmanuel Kurniawan, Pusat Sejarah dan Etika Politik (PUSdEP) Universitas Sanata Dharma dan Lukas Deni Setiawan, Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Hari film nasional baru saja dirayakan tanggal 30 Maret kemarin. Meski Indonesia sudah memproduksi film sejak 1950, permasalahan produksi film masih terjadi. Salah satunya adalah minimnya jumlah film anak.
Sejak digalakkan kembali oleh munculnya Petualangan Sherina (2000), jumlah film anak produksi dalam negeri mengalami perkembangan, namun masih berkisar di angka satu hingga dua film per tahun.
Padahal, potensi target khalayaknya besar. Jumlah anak di Indonesia hampir sepertiga jumlah keseluruhan penduduk.
Selain itu, banyak kritik menyebut bahwa film di bioskop dan program televisi belum berpihak pada anak-anak. Buktinya, film bioskop yang masuk klasifikasi semua umur (SU)-artinya bisa ditonton anak-anak-lebih banyak berasal dari luar negeri (impor).
Sebaiknya Anda baca juga:
Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya keengganan para pembuat film (sineas) untuk memproduksi film anak. Sampai saat ini tidak banyak sineas muda yang melirik produksi film anak.
Riset kami menemukan bahwa solusi dari persoalan ini adalah kolaborasi, pendekatan baru dalam metode produksi film anak, serta keterlibatan orang tua dan masyarakat.
Sinergi dalam berkolaborasi
Sebaiknya Anda baca juga:
Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa kolaborasi bisa melahirkan karya film yang benar-benar menjawab kebutuhan anak.
Sejak 2012, sebuah production house (PH) bernama Hompimpa dan lembaga pemerhati anak Sumbu Pakarti memproduksi media edukasi berupa film anak. Hingga 2022, enam film anak lahir berkat kolaborasi itu, yakni Boncengan (2012) Gazebo (2013), 2B (2014), Jenang Keju (2015), Ciplukan (2019), dan Praja Muda Kirana (2022).
Keenam film ini sudah diputar di berbagai lokasi di Indonesia dan mendapat sambutan positif dari penonton anak-anak. Selama menonton film, penonton anak-anak tampak menikmati, bahkan tak jarang meminta filmnya diputar lagi. Dibantu oleh guru atau pendamping anak, mereka juga merespons film melalui aktivitas seperti menggambar dan bercerita.
Menurut temuan riset kami, film-film anak ini bisa lahir karena adanya sinergi dari lembaga pemerhati anak dan PH yang membuat film yang berkolaborasi.
Sumbu Pakarti memiliki program ruang belajar dan gerakan literasi dengan puluhan sanggar anak di bawahnya, sementara Hompimpa memiliki jam terbang dan kapasitas membuat film yang dibutuhkan Sumbu Pakarti.
Metode produksi ramah anak
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!