ADB Tekankan Kebutuhan Mendesak untuk Membangun Ketahanan terhadap Perubahan Iklim
📅 Minggu, 05 Mei 2024, 06:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak
Tbilisi - Asian Development Bank (ADB) menekankan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan ketahanan, khususnya dalam mengatasi perubahan iklim, dan tekanan panas serta dampaknya terhadap pertanian, infrastruktur, kesehatan, dan kesetaraan gender.
Hal tersebut disampaikan Presiden ADB Masatsugu Asakawa dalam pembukaan Pertemuan Tahunan ke-57 Dewan Gubernur ADB di Tbilisi, Georgia, Sabtu.
"Kita bersatu pada saat masyarakat di wilayah kita menghadapi tantangan yang memerlukan perhatian dan koordinasi yang erat. Dampak perubahan iklim tidak henti-hentinya, dan risiko konflik dan krisis dapat dengan cepat melemahkan penghidupan dan bahkan kelangsungan hidup masyarakat," kata Masatsugu.
Untuk itu, pembangunan ke depan juga harus memprioritaskan ketahanan dan kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim dan dampaknya. Kondisi tersebut membutuhkan aksi nyata dari seluruh pihak sehingga bisa bekerja sama membangun jembatan menuju masa depan yang sejahtera, inklusif, berketahanan, dan berkelanjutan.
"Ancaman perubahan iklim ini tidak bisa diabaikan, dan respons kita tidak bisa ditunda," ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lebih lanjut ia menuturkan tahun 2023 merupakan tahun terpanas yang pernah tercatat. Tekanan panas telah berdampak terhadap masyarakat dan menjadi ancaman terhadap pembangunan di masa depan.
Tanaman pangan dan sistem pangan semakin rentan. Mencairnya gletser menyebabkan kerusakan besar di bagian hilir. Selain itu, para pekerja, mulai dari ladang hingga pabrik, terutama perempuan, sangat menderita akibat tekanan panas.
Tekanan panas merupakan ancaman besar dalam berbagai dimensi mulai dari ketahanan pangan, infrastruktur, sumber daya air, kesehatan, pekerjaan, hingga kesetaraan gender.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Oleh karena itu, masa depan bergantung pada bagaimana kita mendukung masyarakat, sektor, dan ekosistem yang terkena dampak panas," tuturnya.
Dalam acara tersebut, Presiden ADB juga menekankan pentingnya pemanfaatan kecerdasan artifisial untuk pertumbuhan inklusif, sekaligus memastikan penerapan kecerdasan artifisial yang bertanggung jawab dan memitigasi risiko seperti bias dan kurangnya transparansi.
Masatsugu juga menyoroti tentang globalisasi dan menganjurkan kerja sama regional yang lebih dalam untuk membangun perekonomian yang lebih ramah lingkungan dan terbuka, menolak proteksionisme demi memperkuat rantai pasokan yang tangguh dan mengurangi emisi karbon.
Selain itu, ia juga mengatakan pentingnya mendukung kelompok masyarakat yang paling rentan, termasuk mereka yang berada di negara-negara kepulauan kecil, melalui pembiayaan lunak dan inisiatif pembangunan inklusif.
"Jembatan kita menuju masa depan tidak boleh mengabaikan mereka yang paling membutuhkan," katanya.
Masyarakat termiskin dan paling rentan, termasuk yang tinggal di negara-negara kepulauan kecil, menghadapi beban terberat akibat perubahan iklim, guncangan ekonomi, dan konflik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!