Apresiasi pada Penyair, Badan Bahasa Gelar Bedah Dua Buku Kumpulan Puisi
📅 Rabu, 01 Mei 2024, 15:42 WIB | Oleh: Marcellus Widiarto"Beruntung kini kita dapat mendengar lagi senandung serulingnya dari seorang yang tak pernah lupa di laci sebelah mana disimpan sajak-sajaknya itu. Menariknya dari buku sajak ini,kita seakan diberi ruang untuk merenungkan berbagai persoalan keseharian, kesejarahan, termasuk merenungkan persoalan di mana catatan reformasi Indonesia itu sekarang berada," ujar Jeffry.
Sekiranya buku sajak ini diterbitkan pada tahun 2020 dan dikirim dalam penjurianKhatulistiwa Award, bisa jadi Jeffry dan rekan juri yang lain akan mempertimbangkan buku sajak Bung Idrus ini masuk dalam daftar nominasi, bukan karena saya kenal dengan penulisnya, tetapi karena ada keunikan yang membedakan dengan gaya, cara dan konten tematik dari buku sajak yang lain.
Ketua Kelompok Kepakaran dan Layanan Profesional (KKLP) Bahasa Hukum, Badan Bahasa,Eko Marini mencermati dua buku kumpulan puisi karya Idrus dan Ning ini. Menurut Eko, ada rentang cukup lama -20 tahun- dalam kumpulan puisi Idrus, salah satunya yang awal puisi berjudul Nona Alaska, 1986.
"Apakah ini ada kaitan dengan masa muda dan jatuh cintanya Pak Idrus dengan seseorang?" tanya Eko disambut tawa hadirin. Namun demikian dia menyatakan sangat menarik membaca karya Idrus yang penuh dengan spiritualitas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sedangkan buku puisi Perihal Kita karya Ning, menurut Eko, berisi banyak sekali ungkapan kerinduan, termasuk mungkin kerinduan penulisnya. Ternyata memang, sang penyair rindu akan sosok sang suami yang telah lebih dulu meninggalkannya.
"Jadi banyak ungkapakan kerinduan, motivasi, kebangkitan dari keterpurukan banyak hal. Ini sangat baik sekali untuk memotivasi kita. Juga gaya bahasa serta permainan rima yang digunakan, sehingga indah dibaca," tambah Eko.
Sedangkan Guru Penggerak dari SMAN 56 Jakart Barat, Indri Anatya mengungkapkan hasil elaborasi penggunaan sejumlah puisi dari dua buku ini dalam proses pembelajaran siswa kelas XI. Jadi dua buku puisi yang dibedah ini sudah dipratikkan dalam pembelajaran puisi di SMAN 56 Jakarta, bahkan siswa diberi kebebasan untukmengubah bentuk puisi menjadi cerpen, poster, drama, drama musikal dan sebagainya, sebab dalam kurikulum merdeka, memang memberi kemerdekaan bagi siswa untuk berkreasi dan mengembangkan bakat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Indri mengatakan tujuanpembelajaran terkait praktik baik menyimak puisi ini adalah siswa dalam mengidetikkan sendiri unsur-unsur dalam puisi, menjelaskan unsur pembangun puisi, dan menanggapi informasi, pesan, pikiran atau gagasan dalam puisi yang dibahas.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!