Apresiasi pada Penyair, Badan Bahasa Gelar Bedah Dua Buku Kumpulan Puisi
📅 Rabu, 01 Mei 2024, 15:42 WIB | Oleh: Marcellus Widiarto
Doc: istimewa
JAKARTA - Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek (Badan Bahasa) menggelar acara bedahdua buku kumpulan puisi. Pertama karya penulis dan mantan wartawan Tempo, Idrus F.Shahab, Sajak-sajak Malam Gerimis Setangkai Mawar Chairil dan karya seorang guru SD di Batu Aji, Batam, Sutarya Aryaningsih atau Ning berjudul Perihal Kita, di Aula Sasadu, Gedung M Tabrani, Rawamangun, Jakarta, Selasa (30/4).
Selain penyair Idrus F.Shahab dari Jakarta dan Ning dari Batam, tampil selalu pembahas, cendekiawan dari FIB UI yang juga penyair, Jeffry Alkatiri, penulis dan Penata Tingkat 1/III D dari Badan Bahasa, Eko Mraini dan Guru Penggerak dari SMAN 56 Jakarta, Indri Anatya Permatasari. Bedah buku ini dipandu penulis dan dosen Akademi Televisi Indonesia (ATVI), Suradi dan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Hafidz Muksin.
Menurut siaran pers yang diterima Koran Jakarta, Rabu (1/5), Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin saat membuka acara bedah buku ini mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang tinggi pada penulis, pembahasa, moderator, dan tentunya hadirin.
Hafidz mengatakan, kegiatan bedah buku merupakan kegiatan rutin, dan alhamdulillah Perpus Badan Bahasa, meraih predikat B dan selangkah lagi akan meraih predikat tertinggi. Sehingga aktivitas bedah buku diharapkan dapat meningkatkan peran dan fungsi PerpustakaanBadan Bahasa untuk mempublikasi karya-karya terbaik yang layak untuk dibaca publik.
Menurut Hafidz, ini sejalan dengan komitmen Kemendikbudristek, khusunya Badan Bahasa dalam rangka menduniakan sastra agar tampil di pentas dunia. Ini juga selaras dengan aprssiasi UNESCO. Apalagi pada November 2024, UNESCO akan memperingati 100 tahun sastrawan Indonesia terkemuka, AA Navis. Ini merupakan rentetan aktivitas kebanggaan bangsa Indonesia mengingat Bahasa Indonesia telah ditetapkan UNESCO sebagai Bahasa resmi di UNESCO.
Sebaiknya Anda baca juga:
Permainan gitar klasik oleh Idrus F Shihab, mengawali acara bedah buku puisi. Kentara sekali nuansa seni dan perbincangan buku pun mengalir dengan apik. Begitu juga ketika penyair dari Batam, Ning tampil, diawali dengan pembacaan dua puisi karyanya sambil diiringi petikan gitar oleh Idrus. Di penghujung acara, penyair Sihar Ramses Simatupang yang hadir di acara ini, turut membacakan satu puisi karya Idrus berjudul Nona Alaska.
Idrus menuturkan proses kreatifnya. Setelahlulus dari perguruan tinggi (Jurusan Filsafat University of Oregon, Eugene, Oregon, Amerika Serikat-red), langsung menceburkan diri dalam jurnalisme. Sebuah dunia yang egois, dunia yang membuat saya mustahil bergerak. Reportase, mengecek-melobi dan mewawancara sumber, menuliskan laporan, menulis artikel jurnalistik yang berimbang, dan semua itu berlangsung di bawah deadline yang ketat. "Ah ... deadline adalah diktator yang paling dingin yang pernah kujumpai," katanya.
Lama sekali puisi tenggelam dari kehidupan sehari-hari Idrus-- dan kalau pun sekali dua diamenulis puisi, coretan itu hanya tersimpan di dalam laci untuk dilupakan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Rupanya jurnalisme juga yang akhirnya mendekatkan dirinya pada puisi. Saat itu tahun 2007 ketika meliput simposium internasional tentang Rumi di Istanbul dan Konya, Turki. Konya adalah kota di Turki selatan yang sibuk menjadi persinggahan internasional, karena di situlah sufi agung Jalaludin Rumi (1207 - 1273) hidup dan dimakamkan.
Begitu juga penyair dari Batam dengan nama Ning, mengungkapkan proses kreatifnya. Menurut dia, puisi adalah bahasa kalbu, curahan sanubari dari relung jiwa yang terdalam. Ia menjadi teman di kala sepi, menjadi kekasih di kala rindu, menjadi setetes embun di kala dahaga. Sajak-sajak ini datang dari hati, dan sesuatu yang datang dari hati maka hati pulalah yang akan menerimanya. Puisi sederhana sebagai curahan jiwa ini telah tercurah mengiringi pena yang menari menuliskan bait demi bait di dalamnya.
"Menulis puisi bagi saya adalah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, atas segala rahmat nikmat yang tercurah atas akal pikiran (qalbu) sehingga dapat menuangkan segala apa yang dirasakan, apa yang dilihat, dan apa yang saya alami. Meskipun puisi-puisi yang saya rangkai tidaklah seindah syair para pujangga, namun saya merasa amat bahagia dapat mewujudkan buku kumpulan puisi ini. Alhamdulillah ya Allah rasanya sejuta rasa," papar Ning.
Buka Ruang Merenung
Sebagai orang yang mengenal dekat Idrus dan pernah menjadi juri ajang Khatulistiwa Award yang terakhir (2021), Jeffry mengungkapkan dirinya merasa kembali senang ketika terbitnya buku sajak dari Idrus ini. yang menampilkan bukan saja tema-tema lokal, tetapi juga tema-temauniversal. Dengan kata lain, untuk buku sajak milik Idrus ini agak berbeda.
Seperti yang ditulisnya dalam endorsement, bahwa jika diperhatikan kata Jeffry,Idrus sudah menulis sajak tahun 1986, tetapi ada jeda panjang yang membuatnya menyimpan semua peralatan kata-katanya itu di lacinya.Mungkin laut telah menjauhkan jarak pena di tangannya. Perjalanannya sebagai seorang jurnalis justru telah mengasah rasa batinnya semakin dalam dan menjadikannya sangat mudah menumpahkaningatan-ingatan pengalamannya dalam helai-helai kertas yang sekarang telah menjadi sebuah kumpulan buku sajak yang ciamik ini.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!