Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

PBB: Produksi Mineral untuk Energi Bersih Tidak Mencukupi

📅 Senin, 29 Apr 2024, 00:01 WIB | Oleh:
PBB: Produksi Mineral untuk Energi Bersih Tidak Mencukupi Doc: istimewa
Ket. Pabrik litium di Prancis tengah pada 17 Januari. Permintaan litium dapat meningkat lebih dari 1.500 persen pada tahun 2050, menurut laporan PBB.

JENEWA - Menurut studi Konferensi Perdagangan dan Pembangunan PBB, yang dikeluarkan pada Jumat (26/4), tingkat produksi mineral utama seperti litium, kobalt, dan nikel yang diperlukan untuk teknologi energi ramah lingkungan saat ini tidak cukup untuk mencapai tujuan iklim global.

Dikutip dariThe Straits Times, permintaan litium dapat meningkat lebih dari 1.500 persen pada tahun 2050, peningkatan serupa juga terjadi pada mineral lain yang diperlukan untuk memproduksi panel surya, turbin angin, dan baterai mobil listrik.

"Investasi global pada mineral transisi energi yang penting tidak mampu mengimbangi peningkatan permintaan," kata laporan itu.

"Tingkat produksi saat ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat celcius, sejalan dengan Perjanjian Paris."

PBB mengatakan, pihaknya mengidentifikasi 110 proyek pertambangan baru di seluruh dunia dengan nilai 39 miliar dolar AS, dengan 22 miliar dolar AS diinvestasikan di 60 proyek di negara-negara berkembang.

Namun untuk mencapai tujuan emisi nol bersih pada tahun 2030, diperlukan 80 tambang tembaga baru, 70 tambang litium baru, 70 tambang nikel, dan 30 tambang kobalt.

"Investasi sebesar 360 miliar hingga 450 miliar euro akan dibutuhkan antara tahun 2022 dan 2030," kata studi tersebut.

Meningkatnya permintaan akan bahan-bahan penting menawarkan peluang bagi banyak negara berkembang, terutama di Afrika, katanya. Benua ini memiliki lebih dari seperlima cadangan global yang terdiri dari selusin logam esensial.

PBB menyerukan negara-negara berkembang untuk meningkatkan nilai tambah lokal dari operasi pertambangan mereka. Disebutkan bahwa saat ini tidak ada negara di Afrika atau Amerika Latin yang menjadi aktor utama dalam pembuatan katoda atau komponen baterai lainnya.

Laporan tersebut juga mencatat pengalaman Republik Demokratik Kongo, yang dengan memurnikan kobalt secara lokal telah menaikkan harga yang diterimanya dari 5,80 dolar AS per kilogram pada saat ekstraksi menjadi 16,20 dolar AS per kilogram setelah transformasi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.