Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Indonesia Tak Mandiri Sayuran

📅 Kamis, 25 Apr 2024, 08:47 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Indonesia Tak Mandiri Sayuran Doc: istimewa

JAKARTA - Tingginya impor sayuran jelang Idul Fitri 2024 sangat disayangkan, sebab untuk sekelas sayuran saja kita harus bergantung ke negara lain. Jika tak ada perbaikan kebergantungan, ini akan berlangsung lama dan terus menggerus devisa.

Kepala Pusat Pengkajian dan Penerapan Agroekologi Serikat Petani Indonesia (SPI), Muhammad Qomarunnajmi, menegaskan semangat dalam Undang-Undang Pangan adalah semangat kedaulatan dan kemandirian pangan.

"Semestinya impor hanya menjadi pendukung saja untuk pemenuhan kebutuhan pangan," tegas Qomar pada Koran Jakarta, Rabu (24/4).

Dia menekankan bahwa kemandirian dan kedaulatan pangan ini harus di posisikan sebagai keputusan dan pendirian politik, ketetapan dan kebijakan negara memperkuat cadangan pangan nasional juga diharapkan mendukung petani sebagai produsen pangan yang berkualitas.

Impor sayuran dari Tiongkok meningkat pesat, khususnya bawang putih. Impor sayuran Indonesia dari Tiongkok meningkat lebih dari empat kali lipat pada periode Ramadan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri 2024, terutama berkat meningkatnya pembelian bawang putih.

Khusus impor bawang putih, kenaikannya mencapai hingga sembilan kali lipat menjadi 73,5 juta dollar AS, sementara impor jamur mencatat kenaikan sebesar 52 persen menjadi 1,5 juta dollar AS. Dari data historis tahun-tahun sebelumnya, impor sayuran dari Tiongkok memang selalu meningkat signifikan beberapa bulan sebelum Lebaran.

Peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa, mengatakan kebergantungan impor bawang putih karena produksi nasional tahun 2023 yang hanya 30 ribu ton, sementara kebutuhan konsumsi sebesar 554 ribu ton. Produksi tersebut cenderung merosot setiap tahun karena banyak petani yang beralih ke komoditas lain.

"Hal ini tidak lepas dari liberalisasi pertanian yang mengakibatkan banjir impor produk pertanian dan membuat petani kalah bersaing dengan produk luar tersebut," tegas Awan.

Liberalisasi perdagangan ini, lanjut Awan, membuat petani tidak lagi memiliki jaminan serapan produk bawang putih mereka, sementara para pemburu rente lebih suka impor karena profitnya yang jauh lebih tinggi.

Dia menegaskannya perlu ada perencanaan demokratis terkait dgn produksi, tata niaga, dan distribusi bawang putih utk menuju swasembada bawang putih.

Tidak Serius

Koordinator Koalisi Rakyat Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah, mengatakan tingginya impor bawang putih karena memang kita tidak serius memacu penanamannya.

Pihaknya menemukan beberapa permasalahan malaadministrasi dalam proses pemberian rekomendasi impor produk hortikultura (RIPH) bawang putih. Pelanggaran lainnya adalah Ombudsman mendapati banyaknya importir yang tidak melakukan syarat wajib tanam bawang putih.

Perusahaan bawang putih makin banyak setiap tahunnya. Namun, dari 214 perusahaan yang melakukan impor bawang putih pada 2023, hanya 44 perusahaan yang melaksanakan wajib tanam bawang putih. Kebijakan ini perlu dievaluasi karena banyak importir yang memanfaatkan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Forum Ulama Satukan Komitmen Tolak Politik Uang di Muktamar ke-35 NU
    Preview komentar:
    Apakah Bank Nagari ada layanan bebas pulsa? Layanan WhatsApp ...
    Apakah Bank Nagari ada layanan bebas pulsa? Layanan WhatsApp ...
  • Cuaca Hari Minggu Cerah Berawan di Sebagian Besar Wilayah Indonesia
    Preview komentar:
    Apakah Bank Nagari ada layanan WhatsApp? Layanan WhatsApp call ...
    Apakah Bank Nagari ada layanan WhatsApp? Layanan WhatsApp call ...
  • 269 Lulusan PT Terpilih untuk Program Magang Nasional di Kemenpar
    Preview komentar:
    Berapa nomor layanan bebas pulsa Bank Nagari? Layanan WhatsApp ...
    Berapa nomor layanan bebas pulsa Bank Nagari? Layanan WhatsApp ...
Kemenkes: 3 Juta Orang Terpapar Asap Karhutla

Kemenkes: 3 Juta Orang Terpapar Asap Karhutla

23 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.