Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Benteng Indrapatra, Jejak Peninggalan Kerajaan Pra-Islam di Aceh

📅 Sabtu, 06 Apr 2024, 06:10 WIB | Oleh:

Laksamana Cheng Ho dalam laporannya menyebut bahwa Lamuri dapat ditempuh tiga hari dan tiga malam dari Kerajaan Samudera Pasai. Sedangkan Marco Polo, yang tiba di Pulau Sumatra pada 1292, mengungkap bahwa Lamuri tunduk kepada Kaisar Tiongkok dan diwajibkan membayar upeti secara berkala.

Runtuhnya Kerajaan Lamuri pada akhir abad ke-15, ditandai dengan dipindahkan lokasinya dari Indrapatra ke Mahkota Alam (sekarang Kuta Alam). Perpindahannya salah satunya disebabkan oleh serangan dari Pidie yang berada di sisi timur.

Selain versi sejarah tersebut, berpandangan runtuhnya Kerajaan Lamuri karena bergabung dengan kerajaan lain agar menjadi lebih kuat. Tujuannya untuk melawan hegemoni bangsa Eropa khususnya Portugis yang menguasai perdagangan di Selat Malaka.

Sejak perpindahan itu, Lamuri lebih dikenal sebagai Kerajaan Mahkota Alam, mengikuti nama ibu kotanya. Sedangkan Kerajaan Aceh, yang saat itu berpusat di Darul Kamal, lebih dikenal sebagai Kerajaan Aceh Darul Kamal.

Kerajaan Mahkota Alam dengan Aceh Darul Kalam merupakan dua kerajaan yang tidak pernah rukun ini hanya dipisahkan oleh Krueng Aceh atau Sungai Aceh. Dalam Hikayat Aceh, diceritakan bahwa perseteruan dua kerajaan ini dapat diakhiri setelah Raja Syamsu Syah dari Kerajaan Makota Alam menjodohkan putranya, Ali Mughayat Syah, dengan putri Raja Darul Kamal.

Namun, ketika diadakan arakan untuk mengantarkan mas kawin, Darul Kamal diserang hingga menyebabkan para pembesar dan sultannya tewas. Alhasil, Sultan Syamsu Syah menjadi penguasa atas dua kerajaan.

Pada 1516, putranya, Ali Mughayat Syah, naik takhta dan memindahkan pusat kerajaannya ke Banda Aceh. Sejak saat itu, dua kerajaan yang disatukan tersebut dikenal dengan nama Kerajaan Aceh Darussalam.

Basis Pertahanan

Meski telah bergabung warisan dari Kerajaan Lamuri masih dapat dilihat berupa bangunan banteng meski beberapa diantaranya hanya dalam dalam bentuk reruntuhan. Ada dua benteng yang masih berdiri kokoh hingga sekarang di situs sejarah ini berupa banteng utama.

Benteng utama berukuran 70+70 meter dengan ketinggian 4 meter dan ketebalan sekitar 2 meter. Pada bagian lain juga terdapat lubang pengintai yang menghadap ke laut. Di dalam benteng terdapat dua bangunan yang berbentuk kubah, yang di dalamnya terdapat sumur.

Bahan bangunan banteng terdiri dari susunan batu gunung, kapur, tanah liat, kulit kerang, dan telur. Dengan bahan yang tidak biasa ini Benteng Indrapatra tergolong kuat, sehingga bangunannya masih berdiri kokoh sampai sekarang meski diterpa terik dan hujan.

Untuk memaksimalkan pertahanan dibuat parit di sekeliling bangunan, seperti yang dapat dijumpai di benteng-benteng di keraton kerajaan di Pulau Jawa. Di keraton-keraton Jawa parit keliling ini disebut jagang.

H M Zainuddin melalui bukunya Tarich Atjeh dan Nusantara (1961) menyebut banteng Indrapatra adalah tempat untuk menyimpan alat-alat senjata perang seperti bedil, mesin pelor, meriam, dan lainnya. Benteng ini pernah direbut Sultan Iskandar Muda dari cengkraman Portugis. Masih pada masa pemerintahan sultan tersebut, benteng ini juga digunakan sebagai basis pertahanan dengan armada yang dipimpin oleh Laksamana Malahayati.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Uji Coba Pendaratan Pesawat...
Megapolitan
Daftar Lokasi Samsat Kelili...
Megapolitan
Urus SIM Tak Repot Lagi, Ad...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.