Benteng Indrapatra, Jejak Peninggalan Kerajaan Pra-Islam di Aceh
📅 Sabtu, 06 Apr 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Wikimedia
Di pesisir pantai Aceh Besar yang menghadap Selat Malaka pernah menjadi bagian dari perdagangan antar bangsa sejak lama. Dahulu di sini berdiri Kerajaan Lamuri dengan komoditas penting berupa kapur barus.
Lokasi Kabupaten Aceh Besar berada di jalur pelayaran Selat Malaka yang menjadikan posisinya sangat strategis. Sebelum kedatangan bangsa Eropa, masyarakatnya telah berinteraksi dengan berbagai bangsa seperti bangsa India, Tamil, dan Siam, Arab, termasuk dengan bangsa Tiongkok.
Salah satu peninggalan di Aceh Besar adalah Benteng Indrapatra yang berlokasi di Desa Baet, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Jaraknya dengan pusat Kota Banda Aceh mencapai 24,5 kilometer melalui Jalan Raya Laksamana Malahayati.
Indrapatra merupakan sebuah benteng bersejarah di Aceh yang telah digunakan sejak era Hindu hingga era Islam. Oleh Kerajaan Lamuri, bangunan tersebut digunakan sebagai benteng pertahanan dari serangan musuh ke wilayah Aceh sendiri dan juga dari negeri asing.
Lamuri adalah kerajaan tertua di ujung barat pulau Sumatra yang menjadi cikal bakal Kesultanan Aceh Darussalam. Para ahli menduga, kerajaan yang terletak di Lamreh, Aceh Besar, ini telah berdiri sejak abad ke-8 atau ke-9 masehi (M).
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut riwayat dalam sejarah Melayu menyebut Lamuri awalnya bercorak Hindu, kemudian diislamkan sesudah Kerajaan Samudera, sebelum Kerajaan Pasai berdiri. Dibandingkan dengan Kerajaan Samudera Pasai dan Aceh Darussalam yang usianya lebih muda, Kerajaan Lamuri kurang dikenal luas.
Kerajaan Lamuri kurang dikenal karena terkendala minimnya sumber sejarah yang dapat dijadikan rujukan bagi para sejarawan. Sejarah awalnya secara umum, didapat dari sumber-sumber sejarah berita atau catatan asing.
Catatan bangsa asing menyebut Lamuri memiliki banyak nama disesuaikan dengan bahasa yang dimiliki penuturnya, seperti Ramni, Lambri, Lamiri, Ilamuridecam, Lan-wu-li, dan Lanli. Sedangkan Hikayat Aceh mengeja Kerajaan Lamuri dengan l.m.ri.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu berita tertua mengenai Lamuri berasal dari penulis-penulis Arab. Mereka adalah Ibnu Khordadhbeh (844-848 M), Sulaiman (955 M), Mas'udi (943 M), dan Buzurg bin Shahriar (955 M). Sementara berita Tiongkok yang paling tua berasal dari tahun 960 M, yang menyebut bahwa Lamuri menjadi tempat singgah utusan-utusan Persia yang menuju atau pulang dari Tiongkok.
Disebutkan juga, pada 1025 M, Lamuri telah menjadi daerah taklukan Kerajaan Sriwijaya yang bercorak Buddha. Hal ini sesuai dengan informasi yang didapatkan pada Prasasti Tanjore (1030 M), yang memuat laporan ekspedisi Rajendracola Dewa I.
Dari catatan Chau Yu Kwa (terbit pada 1225), dapat diketahui bahwa raja Lamuri beragama Hindu. Raja juga memiliki dua buah ruang penerimaan tamu di istananya, dan apabila bepergian akan diusung atau mengendarai seekor gajah. Di dalam Kitab Negarakertagama, disebutkan bahwa Lamuri telah menjadi negeri taklukan Majapahit.
Hubungan Lamuri dengan negeri asing terlihat dari temuan artefak. Pada ahli mengungkap Kerajaan Lamuri dulunya telah menjalin hubungan dagang dengan negeri-negeri asing, seperti Tiongkok, Vietnam, Thailand, India, serta negara di jazirah Arab.
Hubungan dagang dengan negeri asing tersebut didukung oleh letaknya yang sangat strategis yakni di Selat Malaka pada jalur perdagangan dunia di dunia kuno hingga sekarang. Dari berita-berita Arab, diketahui bahwa Lamuri adalah negeri penghasil kapur barus dan beberapa hasil bumi lainnya.
Dengan komoditas unggulan tersebut, maka tidak heran apabila Lamuri banyak disinggahi kapal-kapal dari berbagai penjuru dunia yang untuk mendapatkannya. Penjelajah seperti Laksamana Cheng Ho, Marcopolo, dan sejumlah nama lain disebut pernah singgah di Lamuri.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!